Oleh Rukardi

Geger Brondongan salah satu noda hitam dalam sejarah Semarang. Konflik rasial yang berpangkal pada persaingan ekonomi.   

Musala di Kampung Brondongan yang telah direnovasi.

Musala di Kampung Brondongan yang telah direnovasi.

BRONDONGAN sebuah kampung kecil di Semarang. Berada di antara Jalan MT Haryono dan Jalan Dr Cipto, ia seperti terselip dari pandangan. Kampung itu tak punya akses jalan masuk sendiri. Dari kedua jalan utama tersebut, kita harus masuk melalui Kampung Kebonarum. Jika lewat Jalan M.T. Haryono membelok ke kiri, kalau dari Dr. Cipto belok ke kanan. Namun pada Maret 1913, kampung kecil dan tersembunyi itu menjadi pusat perhatian. Ya, di Brondongan pernah terjadi insiden yang memicu konflik bernuansa rasial di Semarang.

Alkisah, tersebutlah seorang Tionghoa bernama Liem Mo Sing yang sehari-hari membuka warung nasi dan tahu di depan rumahnya di Kampung Brondongan. Warung Liem selalu ramai oleh pembeli, terutama para buruh perusahaan yang terdapat di sekitar kampung itu. Namun semua berubah sejak Sarekat Islam (SI) menancapkan pengaruhnya di kalangan para buruh. Mereka yang telah menjadi anggota SI berinisiatif mendirikan koperasi dan warung sendiri di Kampung Brondongan. Tentu saja, kehadiran warung dan koperasi SI berimbas langsung terhadap penurunan omzet warung Liem Mo Sing. Liem yang merasa jengkel kemudian melakukan tindakan provokatif. Dia memaki-maki para buruh anggota SI dan kerap mengganggu warga yang sedang salat di musala Kampung Brondongan.

Kamis malam, tanggal 27 Maret 1913, Rus, seorang warga yang tengah menjalankan salat Isya, memergoki Liem Mo Sing di bawah musala yang berbentuk panggung. Dia bersama warga lalu beramai-ramai mengejar lelaki yang akrab disapa Bligo, karena bertubuh besar itu, sampai ke rumahnya. Orang-orang yang marah tersebut mendobrak rumah Liem Mo Sing dan menghajarnya hingga tewas. Versi lain, seperti dituturkan Amen Budiman, kemarahan warga dipicu oleh ulah Liem yang melempar sepotong daging babi ke dalam musala.

Namun alih-alih reda, kematian Liem Mo Sing justru membuat suasana bertambah panas. Peristiwa yang dikenal sebagai Geger Brondongan itu pun menyebar cepat dari mulut ke mulut ke penjuru kota. Sekelompok bumiputera berkeliling sembari membawa senjata. Adapun warga keturunan Tionghoa memilih berdiam diri di dalam rumah. Kawasan Pecinan dan kampung-kampung tempat konsentrasi warga Tionghoa, seperti Ambengan dan Pandean terlihat lengang. Warga Tionghoa di Kampung Brondongan, Kebon Kenap, dan Pederesan bahkan memilih mengungsi. Meski demikian, insiden tetap tak terelakkan. Bentrokan antaretnis terjadi di Kebon Cina (sekarang Jalan Sidorejo) dan Bugangan. Konflik rasial itu tercatat menelan korban, satu orang tewas dan tujuh luka-luka. Semuanya warga keturunan Tionghoa.

Untuk mengamankan situasi, Pemerintah menempatkan sepasukan polisi di Kampung Brondongan dan di dekat Bubakan. Sebanyak 12 pelaku pengeroyokan terhadap Liem Mo Sing ditangkap. Polisi juga meringkus sejumlah orang yang diduga menjadi pemicu huru-hara di kampung-kampung lain. Masih dalam upaya meredakan tensi politik, Ketua SI Haji Samanhudi pun didatangkan ke Semarang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *