Oleh Rukardi

Bersama Suwarni, ia sering diminta Soekarno memainkan bambangan cakil di istana Negara. Pernah menghibur Hirohito, Josif Bros Tito, Julius Nyerere, Ho Chi Minh, Bhumibol Adulyadej, Norodhom Sihanouk, dan Ayub Khan.

S. Tjiptodiharjo dengan foto kenangan bersama Bung Karno.

ISTANA Bogor, 18 Agustus 1963. Sesaat setelah melakukan jamuan makan siang, rombongan Ngesti Pandawa bersiap pulang ke Semarang. Namun mendadak, Presiden Soekarno menghampiri mereka dan meminta berpotret bersama. Maka, jadilah selembar foto hitam putih, dengan objek Presiden, Ny. Hartini, dan sejumlah personel kelompok wayang orang asal Semarang itu. Terlihat di antaranya The Swie Ing, Kasmin, Ny. Linggarsih, Ny. Suwarni, Darmo Surono, Marno Sabdho, S. Tjipto Dihardjo, Soewandi, Panoet, Madyo, Ny. Suparni, dan Sumarjo. Foto tersebut masih disimpan S. Tjipto Rahardjo, di rumahnya yang sederhana di Jalan Batan Miroto 6 Semarang.

Bagi Tjipto, berfoto bersama Bung Karno adalah kebanggaannya sebagai seorang anak wayang. Foto itu akan menjadi kenang-kenangan yang tak terlupakan. Pada masa kekuasaan Presiden pertama RI itu, Tjipto memang kerap diundang bermain di istananya. Baik Istana

Merdeka Jakarta maupun Istana Bogor. Beberapa kali pentas bersama Ngesti Pandawa, tetapi lebih sering dengan kelompok kecil bersama mendiang Suwarni dan Ki Narto Sabdho, Kasidho, dan Yoto Pandoyo.

‘’Saya yang punya dhapukan Cakil, dipasangkan dengan Suwarni, pemeran Abimanyu. Kami ditanggap untuk memainkan Bambangan Cakil, menghibur tamu-tamu negara. Saking seringnya diundang ke istana, sampai-sampai saya dan Suwarni dianggap sebagai anak wayang kesayangan Bung Karno,’’ paparnya.

Tjipto tak ingat, sudah berapa kali main di Istana. Namun, ia ingat pernah bermain di hadapan sejumlah pemimpin negara sahabat, antara lain Kaisar Jepang Hirohito, Presiden Yugoslavia Josif Bros Tito, Presiden Tanzania Julius Nyerere, Presiden Republik Demokratik Vietnam Ho Chi Minh, Raja Thailand Bhumibol Adulyadej, Raja Kamboja Norodhom Sihanouk, dan Presiden Pakistan Ayub Khan.

Soekarno, menurut Tjipto, adalah presiden yang amat menghargai para seniman. Setiap peringatan Hari Kemerdekaan, 17 Agustus, dia mengundang seniman kondang dari pelosok negeri. Namun secara khusus, Tjipto punya pengalaman menarik. Suatu ketika, ia main untuk menghibur Presiden Josif Bros Tito di Istana Merdeka. Melihat Tjipto main bagus, Bung Karno senang dan lantas memberi memo yang bisa ditukar uang Rp 5.000. Ia sesungguhnya ingin menyimpan lembaran memo itu sebagai kenang-kenangan. Tetapi

karena uang di kantong pas-pasan, ia tidak punya pilihan lain. Memo itu ia tukar dengan uang.

‘’Zaman itu, uang Rp 5.000 masih kajen. Sebagai perbandingan, satu stel pakaian Gatotkaca harganya cuma Rp 1000.’’

Dari tanggal 12-26 Januari 1964, lelaki yang dikaruniai 14 anak, 30 cucu, dan lima cicit itu terpilih menjadi anggota misi kebudayaan RI ke Filipina. Selain menghibur Presiden Macapagal di Istana Malacanang, kontingen yang dipimpin Menteri Kebudayaan Prof. Dr. Prijono tersebut juga menggelar pentas di Davao, Cebu, dan Baqio. Ada pengalaman menarik, saat menggelar pentas di Davao. Penonton yang sebagian besar warga Indonesia di Filipina, senang dengan penampilan Tjipto. Karena itu, mereka memintanya kembali menari.

‘’Saking capainya, saya sampai ambruk dan dirawat di rumah sakit.’’

Sebagai anak wayang, karier S. Tjipto Dihardjo tak langsung begitu saja menjulang. Ia mesti melalui proses yang panjang. Bahkan, persentuhannya dengan dunia panggung, boleh dikata tak direncanakan. Lelaki kelahiran Tulungagung 1933 itu mengaku tidak punya darah seniman. Orang tuanya petani yang hidup dari bercocok tanam.

Selepas menyelesaikan pendidikan di volk school (Sekolah Rakyat), Tjipto bergabung dengan Ngesti Pandawa. Bukan sebagai pemain wayang, melainkan menjadi kacung alias pelayan. Tugasnya melayani penonton yang memesan makanan dan minuman di tengah pertunjukan. Kala itu, Ngesti Pandawa masih pentas keliling di Jawa Timur. Tiap hari melihat pertunjukan wayang orang di tobong, Tjipto remaja akhirnya tertarik, terutama oleh jogedan cantrik dalam adegan di pertapaan.

‘’Di sela melayani penonton, saya kadang ikut menari, mengikuti gerakan cantrik di panggung,’’ ujarnya.

Diam-diam, tingkah lakunya diamati Sastro Sabdho. Bukannya marah, pemimpin Wayang Orang Ngesti Pandawa itu justru memberinya kesempatan. Setelah menjalani tes, Tjipto dinyatakan lulus dan mendapat peran sebagai wadya bala atau bala dhupakan.

Dari waktu ke waktu, kemampuannya kian meningkat. Maka, Sastro Sabdho memberi peran lebih penting, dari Kurawa, Buta Babrah, sampai Cakil. Rupanya, Cakil adalah peran yang paling cocok untuk Tjipto. Ia dinilai mampu menguasai teknik jogedan, paham gending,

serta bisa dol tinuku (jual beli) dagelan dengan lawan mainnya. Maka, suami Musriyani (58) itu, hampir selalu didhapuk sebagai Cakil dalam setiap pementasan.

Suatu ketika, Sastro Sabdho pernah memberinya peran sebagai Gatotkaca. Namun sebelum pentas, Tjipto diajak minum minuman keras oleh teman-temannya. Lantaran mabuk berat, ia tak bisa main. Sejak itu, peran Gatotkaca tak pernah lagi dia dapatkan.

‘’Pak Sastro tahu saya mabuk dari riasan muka saya. Alisnya mlethot jadi empat, ha ha ha.’’

Tjipto lantas mengisahkan, betapa pada masa lalu, anak wayang punya banyak fans. Tidak hanya sri panggung yang memerankan Janaka, Srikandi, Gatotkaca atau Wrekudara, namun pemeran Punakawan, Anoman, dan Cakil sekalipun.

‘’Saya yang tergolong tidak ngganteng ini, sering dikejar-kejar penggemar. Bahkan waktu mau pulang naik omprengan, ada penonton wanita yang mencium saya.’’

Saat tubuhnya semakin uzur, Tjipto tidak lagi nyakil. Ia tak lagi lincah membawakan jogedan. Sebagai ganti, lelaki itu mendapat peran-peran ringan semacam pandhita, Semar, atau patih. Baru pada 2005, Tjipto betul-betul berhenti main wayang. Di luar itu, peraih penghargaan Budaya Bakti Upapradana 1997 dari Gubernur Jawa Tengah tersebut, juga bisnis kecil-kecilan menyewakan pakaian wayang di rumahnya. Dari usahanya itu, ia dan keluarganya menggantungkan hidup. Sebelumnya, Tjipto pernah melatih tari secara privat, namun karena tubuhnya tidak kuat, aktivitas itu ia hentikan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *