FFI 1980 Semarang dalam Kenangan

foto: Warga menyemut di depan Hotel Metro untuk melihat aktor dan aktris FFI 1980.

Oleh Rukardi

Penyelenggaraan FFI 1980 di Semarang dianggap sukses. Sofia W.D. bahkan menyebutnya sebagai yang terbaik sepanjang sejarah. Tapi mengapa Roy Marteen menganggap dewan juri yang antara lain beranggotakan Mochtar Loebis dan Trisutji Kamal goblok?  

 

SELASA, 22 April 1980, pukul 06.30, kereta api dari Jakarta yang khusus membawa Menteri Penerangan Ali Moertopo, para peserta sidang Majelis Musyawarah Perfilman Indonesia (MMPI), dan 150-an artis pendukung Festival Film Indonesia (FFI) sampai di Stasiun Tawang. Meski datang satu setengah jam lebih awal dari yang direncanakan, bukan berarti rombongan itu bebas dari serbuan massa. Di luar stasiun, ratusan orang telah menyemut, menunggu para pesohor yang sebelumnya hanya bisa mereka saksikan di layar televisi dan bioskop.

Turun dari kereta, bintang-bintang beken dari Ibu Kota itu langsung disambut antusias oleh massa. Mereka merangsek ke pintu keluar untuk bisa melihat dari dekat serta bersalaman dengan Titiek Puspa, Rahayu Effendy, Yenny Rachman, Lydia Kandou, Roy Marteen, Deddy Sutomo, Slamet Rahardjo, Sjumandjaya, A Rafiq, Elvi Soekaesih, komedian Jalal, dan kawan-kawan.

Itu baru keriuhan awal. Lepas dari Tawang, rombongan langsung diangkut beberapa bus menuju Rumah Dinas Wali Kota Semarang di Manyaran untuk beramah-tamah dengan sang sahibul bait, H. Iman Soeparto Tjakrajoeda. Beranjak siang, mereka meluncur ke tempat menginap di Hotel Metro. Rupanya, hotel di sebelah utara Pasar Johar itu telah dikempung massa. Ribuan orang berdesakan di luar pagar. Para artis yang kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang memilih langsung masuk kamar dan beristirahat. Hanya Titiek Puspa dan beberapa artis yang menyempatkan diri menyapa. Dari jendela kamar hotel, mereka melambaikan tangan. Massa langsung membalas dengan segenap histeria.

Ya, keriuhan itu menjadi tengara antusiasme masyarakat menyambut pelaksanaan FFI yang berlangsung 22-27 April 1980 di Semarang. Suasana kota yang biasanya relatif tenang berubah hiruk-pikuk. Acara-acara penyemarak festival, seperti pawai artis, “Malam Sejuta Bintang”, pameran sinematek, pemutaran triler film-film unggulan di sejumlah gedung bioskop, serta malam penganugerahan Piala Citra selalu dipadati penonton.

Untuk mendapatkan undangan gratis “Malam Sejuta Bintang” di Gedung Olah Raga (GOR) Simpanglima, misalnya, orang rela antre berjam-jam. Mereka yang tak kebagian, nekat datang dengan undangan fotokopi. Melihat antusiasme warga yang luar biasa, Harian Suara Merdeka berinisiatif menyelenggarakan acara tambahan, yakni “Malam Sejuta Bintang” khusus pelajar.

Di luar hiruk-pikuk itu, perang bintang memperebutkan Piala Citra juga tak kalah seru. Ada 41 film produksi tahun 1979 yang ikut bertarung dalam ajang itu. Namun setelah diseleksi oleh dewan juri yang terdiri atas Mochtar Loebis, Dr. Sudjoko, Trisutji Kamal, Dr. Mulyono, Dr. Tuty Heraty Noerhadi, D.A. Peransi, dan J.B. Kristanto, terpilih lima film cerita terbaik, yakni Harmonikaku, Kabut Sutera Ungu, Rembulan dan Matahari, Yuyun Pasien Rumah Sakit Jiwa (YPRSJ), dan Perawan Desa.

Nominasi pemeran utama pria terbaik, yakni Deddy Hariadi (Si Pincang), Fachrul Rozy (Harmonikaku), Ryan Hidayat (Anna Maria), W.D. Mochtar (YPRSJ), dan Zainal Abidin (Si Pincang). Nominasi pemeran utama wanita terbaik diraih Farah Meuthia (YPRSJ), Ira Maya Sopha (Ira Maya si Anak Tiri), Yenny Rachman (Kabut Sutera Ungu/Romantika Remaja/Perawan Tanpa Dosa), Marini (Anna Maria), dan Nia Daniati (Antara Dia dan Aku). Adapun calon sutradara terbaik ditetapkan, Arifin C. Noer (Harmonikaku/YPRSJ), Franky Rorimpandey (Perawan Desa), Hasmanan (Anna Maria), Sjumandjaja (Kabut Sutera Ungu), serta Slamet Rahardjo (Rembulan dan Matahari).

Pengumuman nominasi yang dilakukan pada hari ketiga penyelenggaraan FFI itu sempat menuai kontroversi. Pasalnya, Film Harmonikaku dan YPRSJ yang semula didaftarkan sebagai film noncerita, justru masuk menjadi nominasi film cerita. Soal ini, Mochtar Loebis menjawab singkat. “Juri menilai kedua film tersebut sebagai film cerita.” Kontroversi lain juga berpangkal pada ketidaklolosan sejumlah film yang sejak awal diunggulkan, terutama film yang mengusung semangat kultural-edukatif seperti Janur Kuning, serta film-film bergenre remaja yang saat itu tengah naik daun, seperti Mencari Cinta, Buah Terlarang, Remaja-remaja, Remaja di Lampu Merah, dan Anak-anak Buangan. Tiga bintang remaja yang saat itu tengah bersinar terang: Rano Karno, Yessy Gusman, dan Lydia Kandou sama sekali tak dilirik dewan juri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *