FFI 1980 Semarang dalam Kenangan


Film-film, sutradara, para aktor, aktris, dan pekerja film yang masuk nominasi kembali diseleksi. Setelah melalui perdebatan panjang, pada Sabtu malam, 27 April, di GOR Simpanglima, dewan juri mengumumkan para peraih penghargaan FFI 1980. Film terbaik dimenangkan oleh Perawan Desa, sutradara terbaik Franky Rorimpandey (Perawan Desa), dan Pemeran utama wanita terbaik Yenny Rachman.

Mengejutkan, dewan juri tidak memilih pemeran utama pria terbaik. Mereka membiarkannya gelar itu kosong. Keputusan tersebut menuai beragam komentar. Sejumlah awak film menganggapnya sebagai hal wajar, namun ada pula yang mengecam. Roy Marteen misalnya, dengan keras menyebut dewan juri telah melakukan kesalahan fatal. “Kalau memang tidak ada Piala Citra untuk pemeran utama pria, mengapa harus ada nominasi? Itu kan namanya juri goblok!” Respons serupa juga ditunjukkan dua sutradara kawakan Teguh Karya dan Sjumandjaya. “Saya bingung, otak saya pusing. Saya tidak bisa berkomentar terburu-buru. Saya mesti berpikir, saya mesti menjernihkan pikiran barulah saya berkata,” ujar Teguh Karya.

Terlepas dari beberapa kontroversi, pelaksanaan FFI 1980 di Semarang bisa dibilang sukses. Hal itu ditengarai dari kesan yang dikemukakan para bintang yang hadir. Sekretaris Parfi H. Mansyursyah memuji kerja panitia yang bagus. Dia bandingkan, FFI di Semarang dengan FFI tahun sebelumnya di Ujungpandang. “Di Ujungpandang banyak terjadi kecurangan di kalangan panitia setempat. Mereka menganggap festival sebagai kesempatan untuk mencari uang. Sofia W.D. menyebut FFI 1980 sebagai yang terbaik sepanjang sejarah.

Salah satu bintang yang beroleh perhatian khusus saat itu adalah Yenny Rachman. Keterpilihannya sebagai pemeran utama wanita terbaik sudah diramalkan sejumlah pengamat. Meski belum pernah meraih Piala Citra, aktingnya dalam film Kabut Sutera Ungu amat memukau. Tak heran jika saat menerima Piala Citra dari Ketua Parfi Sukarno M. Noor, gadis kelahiran Jakarta, 18 Januari 1959 itu beroleh sambutan meriah dari penonton.

Sambutan itu terus mengalir seusai festival. Banyak orang ingin bertemu dengan Yenny, sesaat sebelum bertolak ke Jakarta melalui Stasiun Tawang. Tak sekadar bersemuka dan bersalaman, mereka juga berebut ingin mendapatkan tanda tangan. Ketika kereta berhenti sejenak di Stasiun Tegal, sejumlah penggemar perempuan bahkan nekat masuk ke dalam gerbong dan menghujaninya dengan ciuman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *