Oleh Rukardi

Syarat pemimpin Tionghoa adalah kaya, berpengaruh, punya relasi baik dengan orang-orang sebangsanya, serta patuh dan setia kepada pemerintah kolonial Belanda. Jika berkhianat, akan mengalami nasib tragis seperti Kwee An Say.

Mayor Cina Be Biauw Tjoan.

Mayor Cina Be Biauw Tjoan.

KETIKA Jan Pieterzoon Coen merebut Jayakarta pada 1619 dan berencana membangunnya menjadi bandar besar untuk menyaingi Banten, ia membujuk So Beng Koen membawa orang-orang Tionghoa hijrah ke tempat itu. Setelah terlaksana, Gubernur Jenderal VOC tersebut menunjuk Beng Koen sebagai pemimpin dengan gelar Kapitein der Chinezen atau kapten Cina. Itulah officier der Chinezen (pemimpin Tionghoa) pertama di Hindia Belanda.

Sebagai pemimpin Beng Koen bertugas memobilisasi orang-orang Tionghoa untuk membangun Jayakarta. Dalam perkembangannya, kapten Cina punya tugas lebih kompleks. Ia menarik pajak, mengurus administrasi, dan persoalan yang berkait dengan warga Pecinan.

Pada masa selanjutnya VOC juga menunjuk officier der Chinezen di kota-kota lain di bawah kekuasaannya, yang memiliki jumlah penduduk Tionghoa relatif banyak, seperti Surabaya, Bandung, dan Semarang. Kapten Cina Semarang yang pertama adalah Kwee Kiauw Loo, seorang saudagar kaya dari Batavia. Ia yang lahir di Haiting, Hokkian, resmi menjabat pada 1672. Tak banyak informasi mengenai sepak terjang Kwee sebagai kapten Cina. Kira-kira 12 tahun menjabat, ia kembali ke Batavia, sebelum akhirnya pulang ke tanah leluhurnya.

Syarat pemimpin Tionghoa adalah kaya. Menurut Mona Lohanda, hal itu menjadi pertimbangan utama bagi pemerintah kolonial untuk menyetujui usulan pengangkatan mereka. Kapten Tionghoa biasanya pedagang sukses, atau saudagar kaya yang punya pengaruh besar di tengah masyarakat. Mereka biasanya para pachter (bandar) yang memegang monopoli perdagangan barang atau jasa tertentu, seperti candu, garam, gula, hasil hutan, pasar, penangkapan ikan, tempat perjudian, atau pegadaian.

Persyaratan lain? Latar belakang keluarga, serta relasi yang baik dengan penguasa dan masyarakat pribumi asli di lingkungannya. VOC maupun pemerintah Hindia Belanda pada masa berikutnya, sangat mempertimbangkan latar belakang calon pemimpin Tionghoa. Mereka tak mau gegabah memilih orang yang tak jelas asal-usulnya. Biasanya, pemerintah memilih dari salah seorang saudara pemimpin Tionghoa yang punya kondite bagus, entah itu kakak, adik, maupun anak. Hal itu untuk mendapatkan jaminan kapatuhan mereka.

Ketika warga Pecinan semakin banyak, dan persoalan di dalamnya bertambah kompleks, pemerintah kolonial mengangkat pejabat berpangkat leuitenant der Chinezen atau letnan Tionghoa sebagai pembantu. Jumlahnya tergantung kebutuhan. Sebagai penghasilan, mereka beroleh pach tertentu yang dikelola bersama. Laiknya jenjang kepangkatan dalam militer, seorang letnan punya peluang untuk menjadi kapten. Dan seorang kapten yang dianggap menjalankan tugas dengan baik, kemudian diangkat menjadi majoor der Chinezen alias mayor Tionghoa.

Ketika hendak menunjuk Kapten Tionghoa untuk Semarang, VOC tak melihat sosok yang memenuhi persyaratan di kota itu. Maka, Kwee Kiauw Loo pun didatangkan dari Batavia. Ia merupakan kakak kandung dari Kapten Tionghoa Batavia Kwee Koen dan Letnan Kwee Djoan. Tak banyak informasi mengenai sepak-terjang kapten Tionghoa pertama ini, hingga akhirnya diganti oleh Kwee An Say, seorang pedagang kaya yang punya relasi luas, baik di kalangan Tionghoa, pribumi, maupun Belanda. Liem Thian Joe dalam Riwajat Semarang, Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan menyebut, Kwee An Say sosok kontroversial yang pernah memimpin orang-orang sebangsanya bertempur untuk, maupun melawan Belanda.

Pascapenangkapan Kwee An Say, jabatan Kapten Tionghoa Semarang sempat kosong beberapa lama. Tanggal 20 September 1743, jabatan itu diisi oleh Kwee Gang, seorang Letnan Cina dari Batavia. Pada masanya, Pecinan Semarang semakin ramai. Karena kewalahan, kapten asal Haiting yang bergelar Yong Hong itu dibantu seorang letnan. Sepuluh tahun bertugas, Kwee Gang telah memberi banyak keuntungan kepada VOC. Dia akhirnya kembali ke Batavia untuk melanjutkan usaha dagangnya di sana.

Sang pengganti tak lagi dari marga Kwee. Dialah Oei Tje, lelaki yang tak terlampau kaya, namun empatik dan pandai bercerita. Ia punya kebiasaan minum arak dan bersyair. Suatu ketika, tulis Liem Thian Joe, Oei Tje kehilangan uang pajak yang disimpan di rumahnya. Lantaran tak bisa menjelaskan sekaligus mengembalikan uang yang hilang itu, ia ditahan. Warga yang mencintai Oei lalu iuran untuk mengganti uang pajak yang hilang. Setelah bebas, ia hijrah ke Batavia, tinggal di rumah seorang anaknya.

Seorang saudagar gula bernama Tan Eng alias Boen Hwan ditunjuk untuk menggantikan Oei Tje. Setelah menjabat, ia menggunakan gelar Phik Khee. Sebagai pembantu diangkat Letnan Khouw Ping. Belum cukup, VOC menambah beberapa letnan lagi untuk meringankan tugas Tan Eng. Tahun 1770, Tan Eng meninggal. Sang adik kandung, Tan Lik, diminta menggantikan kedudukannya. Kapten Cina berjuluk Tien Goan itu berwatak keras, pemberani, dan pandai bela diri, sehingga disegani.

Tan Yok Sing menjadi Kapten Cina berikutnya. Ia dipilih karena dekat dengan pejabat kolonial dan punya perhatian lebih terhadap masyarakat Pecinan. Setelah itu berturut-turut, jabatan Kapten Cina dipegang oleh Tan Tiang Khong, Tan Tiang Tjhing, Tan Hong Yan, Be Ing Tjoe, Tan Tjong Hoay, Be Biauw Tjoan, Tan Khoen Siong, Liem Liong Hien, Oei Tiong Ham, dan Oei Tiong Bhing. Sebagian di antara mereka diangkat menjadi mayor, yakni Tan Tiang Tjing (mayor Tionghoa pertama Semarang), Be Ing Tjoe, Tan Tjong Hoay, Be Biauw Tjoan, Liem Liong Hien, dan Oei Tiong Ham.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *