Pemimpin Tionghoa Semarang yang punya kisah hidup menarik adalah Kwee An Say. Dialah kapten Tionghoa yang terlibat dalam pemberontakan orang-orang sebangsanya melawan VOC pascaperistiwa Batavia 1740. Padahal, sebelumnya ia pernah bersekutu dengan mereka menyerang Surakarta.

Kwee An Say seorang Tionghoa totok kelahiran Haiting, Hokkian. Seperti kebanyakan hoakiauw atau orang Tiongkok perantau lain, setiba di Semarang, ia mencoba peruntungan dengan berdagang. Kwee, tulis Liem Thian Joe,  menjajakan barang dagangannya berkeliling dari kampung ke kampung, sampai ke pelosok desa di sekitar Semarang, seperti Kendal, Salatiga, dan Ungaran. Awalnya sendirian, namun lantaran barang yang dijual cepat habis, ia memerlukan diri membayar tenaga bantu, beberapa orang bumiputera.

Suatu ketika di Ungaran, Kwee diadang begal di tengah jalan. Orang-orang yang awalnya menyaru sebagai pembeli itu menyerang dan meminta paksa barang-barang dagangan Kwee. Para buruh yang kecapaian berhasil dilumpuhkan, tapi Kwee tidak. Sebaliknya, ia yang menguasai ilmu bela diri kungfu justru berhasil mengalahkan para begal. Usut-punya usut, mereka adalah begal yang amat ditakuti dan punya banyak pengikut di daerah Ungaran. Semenjak peristiwa itu, nama Kwee harum. Di kalangan penduduk pribumi, ia dikenal dengan sebutan Kiai Angsee.

Pada masa kemudian, Kwee banting stir dengan berdagang gula secara menetap. Usaha itu maju, hingga kehidupannya bertambah mapan. Sehari-hari sikapnya ramah, murah hati, dan pandai bergaul. Salah seorang sahabatnya adalah Adipati Semarang saat itu. Sepeninggal Kwee Kiauw Loo ke Tiongkok, jabatan Kapten Tionghoa Semarang lowong. Sebagai gantinya, VOC menunjuk Kwee An Say yang dianggap memenuhi syarat. Tak lama setelah pengangkatannya, Kwee An Say dimintai tolong oleh sang Adipati untuk turut membantu kompeni menyerang Surakarta. Ia menyanggupi dan segera menghimpun orang-orang Tionghoa di Semarang, Kendal, Demak Buyaran, Jepara, dan sekitarnya. Kwee memimpin langsung penyerbuan itu. Sebagai imbalan, papar Liem Thian Joe, Adipati menganugerahkan tanda-tanda kebesaran, berupa  payung kuning, sebuah keris bertabur permata, dan tongkat pentol emas.

Namun, peristiwa pembantaian orang-orang Tionghoa di Batavia pada 1740 menghancurkan hubungan baik yang terjalin dengan adipati dan VOC. Ia bersama orang-orang Tionghoa dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mengetahui peristiwa biadab itu berbalik melakukan perlawanan.

Khawatir peristiwa serupa terjadi di Semarang, Kwee memerintahkan orang-orang Tionghoa di kota itu membuat benteng di Pecinan. Ia juga mengirimkan sekitar 200 warganya untuk membantu orang-orang Tionghoa di Welahan yang diserang VOC.

Ketika kondisi Pecinan kosong, musuh menyerbu. Pertempuran tidak seimbang terjadi, dan perlawanan orang-orang Tionghoa Semarang pun dipatahkan. Kapten Kwee An Say lalu ditangkap. Versi lain dituturkan Benny G Setiono dalam buku Tionghoa dalam Pusaran Politik. VOC mencurigai Kapten dan Letnan Tionghoa Semarang – yang ia sebut Que Anko dan Que Yonko – terlibat dalam peristiwa pengepungan Benteng de Vijfhoek (Kota Lama) dan pertempuran melawan VOC di Semarang.

Setelah berhasil menghancurkan pasukan pemberontak, VOC menyerbu dan menduduki Pecinan. Mereka menemukan beberapa senjata dan amunisi di rumah Que Anko. Sang kapten berdalih itu senjata sisa perang tahun 1718. Namun VOC tak percaya. Kedua pemimpin Tionghoa Semarang itu lalu dirantai, sebelum akhirnya dihukum pancung.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *