Oleh Rukardi

Nasida Ria disebut-sebut sebagai pelopor kasidah modern di Indonesia. Lagu-lagunya sanggup menembus sekat budaya, ideologi, bahkan agama.

Kelompok kasidah Nasida Ria

TEMBANG kasidah itu berkumandang di sebuah taman di Recklinghausen, Jerman. Pelantunnya sembilan perempuan berbusana muslim, berkulit sawo matang. Ratusan orang yang hadir tekun menyimak. Ada yang sambil berdiri, menenggak bir, atau sekadar duduk di rerumputan. Sejumlah bocah bergerombol di depan panggung, beberapa asyik bergoyang-goyang.

Meski barangkali asing dengan genre musik yang dimainkan, bulebule itu terlihat apresiatif. Begitu tembang usai, mereka memberikan tepuk tangan panjang. Inilah suasana yang tergambar dalam video dokumentasi Nasida Ria saat tampil dalam Festival Heimatklange ‘96

Sinbad Travels di Jerman pada 1996. Video ini menjadi bukti betapa musik kelompok kasidah modern asal Semarang tersebut sanggup menembus sekat-sekat budaya, ideologi, bahkan agama.

Padahal, saat kali pertama dibentuk oleh H.M. Zain pada 1975, Nasida Ria punya segmentasi khusus. Mereka hanya menyanyikan tembang-tembang keislaman yang kental dengan nuansa padang pasir dan bersyair Arab.

“Pak Zain sengaja membentuk Nasida Ria sebagai sarana dakwah Islam. Dan saat itu, referensi lagu-lagu dakwah yang ada hanya dari Timur-Tengah,” ujar H. Choliq Zain, General Manager Nasida Ria, yang juga putra kedua H.M. Zain.

Ya, H.M. Zain memang berobsesi melakukan dakwah Islam melalui musik. Sebelum Nasida Ria, ia pernah membentuk grup kasidah Assabab dengan personel campuran, laki-laki dan perempuan. Namun popularitasnya surut bersamaan dengan meninggalnya sang vokalis

yang menjadi ikon Assabab, Juwariyah M.A.

Nasida Ria yang kemudian dibentuk, seluruhnya beranggotakan perempuan. Mereka murid-murid pilihan HM Zain. Perlu diketahui bahwa Zain sesungguhnya adalah guru qiraah. Selain mengajar berkeliling, ia menampung remaja-remaja berbakat dari berbagai daerah di rumahnya, Kampung Kauman Mustaram.

“Nah, personel Nasida Ria diambil dari anak-anak yang belajar ngaji di rumah itu. Jadi mereka sebenarnya para qariah,” ungkap Choliq.

Awalnya, Nasida Ria hanya menggunakan alat musik rebana. Namun karena seluruh personelnya perempuan dan punya kemampun vokal yang baik, grup ini cepat terkenal. Mereka pun banyak mendapat tanggapan. Wali Kota Semarang saat itu, H. Iman Soeparto Tjakrajoeda yang terkesan oleh penampilan Nasida Ria berkenan menyumbang alat

musik organ. Ia juga memfasilitasi mereka belajar musik. Sejak itu, penampilan Mudrikah Zain, Mutoharoh, Rien Jamain, Umi Kholifah, Musyarofah, Nunung, Alfiyah, Kudriyah, dan Nur Ain jadi lebih tertata dan modern. Terlebih setelah mereka melengkapi diri dengan alat

musik bas gitar, biola, dan gitar melodi.

Pada 1978, Nasida Ria meluncurkan album perdana. Album yang direkam oleh Ira Puspita Record itu masih kental beraroma Timur Tengah. Setelah itu menyusul tiga album lain yang sebagian besar juga mengusung lagu-lagu gambus berbahasa Arab. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *