Suatu ketika, H.M. Zain beroleh saran dari K.H. Ahmad Buchori Masruri agar Nasida Ria lebih banyak menyanyikan lagu kasidah berbahasa Indonesia. Ini, kata Buchori, penting agar pesan dakwah yang terdapat dalam lagu bisa lebih tersampaikan kepada masyarakat. Tak sekadar saran, Buchori yang menggunakan nama samaran Abu Ali Haidar, juga menciptakan tembang-tembang berbahasa Indonesia untuk Nasida Ria. Salah satunya berjudul “Perdamaian”. Bersama sejumlah tembang lain, lagu ini diluncurkan sebagai album kelima.

Benar, respons masyarakat terhadap album ini luar biasa besar. Lagu “Perdamaian” sangat populer, dan nama Nasida Ria pun mulai dikenal di seluruh Indonesia.

Sukses ‘’Perdamaian’’ berlanjut ke album-album berikutnya. Lagu-lagu hit mereka seperti “Pengantin Baru”, “Tahun 2000”, “Jilbab Putih”, “Anakku”, dan “Kota Santri”, digemari, tak hanya oleh masyarakat pedesaan, namun juga yang tinggal di kota-kota besar. Orkes kasidah modern ini mulai sering tampil di televisi. Jadwal pentas keliling pun semakin padat.

“Hampir seluruh wilayah di Indonesia sudah kami datangi. Bahkan kami juga pernah manggung di Hong Kong, Malaysia, dan Jerman,” tutur Rien Jamain, personel Nasida Ria.

Selain personel yang seluruhnya perempuan, daya tarik Nasida Ria terletak pada konsep musik yang diusung, yakni kasidah modern. Kasidah jenis ini mendobrak kecenderungan musik kasidah yang kental dengan nuansa Timur Tengah. Bisa dibilang, Nasida Ria-lah pelopor kasidah modern di Indonesia.

Dengan konsep itu, lagu-lagu Nasida Ria cenderung lebih adaptatif dan meng-Indonesia. Dari sisi musik, anasir padang pasir memang masih terasa. Itu karena para pencipta lagu Nasida Ria, mulai dari H.M. Zain, Ahmad Buchori Masruri, H. Fadholi Ambar, Hadziq Zain, Mustaqin Ranis, Mutohar Asaad, Ismail Massech, Hasan Basri, hingga Asmyn Cayder, acap memodifikasi irama lagu gambus dari Arab dan Mesir. Namun penggunaan alat musik Barat, seperti gitar elektrik, biola, dan organ, menjadikan lagu-lagu itu punya ciri spesifik.

Warna lokal kasidah Nasida Ria semakin terasa dari penggunaan syair berbahasa Indonesia dan pilihan tema lagu yang lebih cair. Lagu-lagu kelompok ini tak lagi bertemakan dakwah dalam pengertian sempit. Mereka membicarakan soal pers (”Ratu Dunia”), hukum (”Keadilan”), bahaya perang (”Perdamaian”, ”Bom Nuklir”), perjudian (”Rayuan Judi”), kelestarian alam (”Lingkungan Hidup”), hingga bencana (”Tragedi Tsunami”).

“Sebenarnya ini kan dakwah juga. Kalau dirunut, akarnya di Quran dan Hadist,” kata Buchori, yang mantan Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah.

Nasida Ria orkes yang amat produktif. Mereka banyak menelurkan album dan giat berpentas. Sejak kali pertama berdiri hingga saat ini, Mudrikah Zain dan kawan-kawan telah membawakan lebih dari 350 lagu. Lagu-lagu itu terbagi dalam 35-an album.

Bongkar pasang personel mewarnai perjalanan Nasida Ria. Mereka yang mengundurkan diri atau meninggal diganti personel baru, antara lain Hamidah, Nurjanah, Nadhiroh, Afuah, Nurhayati, Siti Ronah, Sofiyatun, dan Titi Thowiyah. Masa keemasan Nasida Ria berlangsung hingga tahun 1990-an. Selama itu mereka nyaris tak punya saingan. Saking dominannya

kelompok ini, sampai-sampai masyarakat acap mengidentifikasikan musik kasidah dengan Nasida Ria. Memasuki tahun 2000, pamor Nasida Ria meredup. Meski demikian mereka masih terus menelorkan album dan melakukan pentas keliling. Album terakhir, Cahaya Ilmu,

diproduksi tahun 2009.

Sejumlah penghargaan melengkapi cerita sukses Nasida Ria. Pada 1989, mereka meraih penghargaan Pengemban Budaya Islam dari PWI Pusat Jakarta, Tahun 1992 menerima Penghargaan Seni dari PWI Jawa Tengah, dan pada 2004 beroleh Anugrah Keteladanan 2004 dari PPP Jawa Tengah. Penghargaan dalam bentuk lain adalah dinyanyikannya lagu mereka oleh penyanyi terkenal, yakni “Perdamaian” oleh grup band Gigi dan “Kota Santri” oleh pasangan Anang-Kris Dayanti.

Kini, di tengah ingar-bingar industri musik Indonesia, nama Nasida Ria sayup-sayup terdengar. Mereka masih ada dan mengada di panggung-panggung hiburan yang tak terlampau gebyar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *