Kisah Foto yang Menolak Mooi Indie

foto: Foto kabinet pertama RI karya pewarta foto IPPHOS.

Oleh Rukardi

Bersama Antara dan Berita Film Indonesia (BFI), IPPHOS memelopori penggunaan foto sebagai alat perjuangan dan diplomasi. Foto-foto jurnalistik biro foto independen ini menjadi antitesis foto propaganda pihak Belanda pada masa revolusi 1945-1949.

AWAL Juli 2012, terjadi kegaduhan kecil di Belanda tersebab serangkaian artikel berfoto di de Volkskran. Selain menciptakan keterkejutan, artikel dan foto-foto di koran kenamaan itu menyadarkan warga negeri Kincir Angin terhadap sejarah kelam nenek-moyang mereka.

Semua bermula dari penemuan album foto usang secara tak sengaja di sebuah tempat pembuangan sampah di Kota Enschede. Sang penemu, seorang pegawai pemerintah setempat, semula tak menyadari keistimewaan foto-foto di album lusuh itu. Dia baru terpana ketika membuka album dan menemukan beberapa lembar foto eksekusi warga sipil yang dilakukan oleh tentara Belanda.

Misteri pembantaian keji itu sedikit terkuak ketika identitas pemilik album diketahui. Dia adalah Jacobus R, bekas prajurit wajib militer yang tergabung dalam resimen artileri lapangan, atau lebih dikenal sebagai Regiment Veldartillerie (RVA). Tahun 1947 hingga 1950 Jacobus bersama prajurit RVA lain dikirim ke Jawa untuk mengatasi pergolakan pascaserah terima kekuasaan dari Jepang kepada Sekutu. Seperti kita tahu, pada masa itu, Belanda yang ingin mengembalikan kekuasaannya di tanah Hindia, melakukan dua kali operasi militer. Pemerintah Belanda menyebutnya politionele actie, sedangkan pihak Indonesia menganggap sebagai agresi militer.

Kendati demikian, aksi pembantaian massal yang terpapar di album prajurit Jacobus tak sepenuhnya terungkap. Pakar dari Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie (NIOD) maupun Institut Sejarah Militer Belanda (NIMH) tak mengenali insiden memilukan itu. Selama ini mereka hanya mencatat dua pembantaian yang dilakukan tentara Belanda di Indonesia pasca-Perang Dunia II, yakni di Rawagede, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Dengan membuka catatan sejarah resmi batalyon RVA, mereka hanya bisa menduga, pembantaian itu terjadi di daerah Jawa Barat, tapi bukan peristiwa Rawagede.

Memang, selama ini Belanda berupaya menutupi kisah kelam yang terjadi di Indonesia, terutama pada masa revolusi fisik. Mereka baru mengakui setelah kalah dalam proses gugatan di pengadilan, seperti dalam kasus Rawagede. Kurikulum pendidikan sejarah di negeri itu juga tak membahas secara detail apa yang terjadi di Indonesia pada 1945-1949. Seperti Jepang di sejumlah negara Asia dan Indonesia di Timor Timur, Belanda ingin membungkus rapat aib sejarah mereka di negeri jajahan.

Upaya menutupi kejahatan perang bahkan telah dilakukan sesaat setelah kejadian berlangsung. Pemerintah melalui aparat intelijen dan dinas militer mereka di Indonesia menyeleksi foto-foto perang pada masa penuh gejolak itu, terutama pasca-Agresi Militer I (1947) yang hendak dikirim oleh para pewarta foto ke kantor redaksi media di Belanda. Foto-foto yang dianggap dapat merusak citra mereka dalam perang itu disensor. Ihwal penyensoran terungkap ketika pada 2009, René Kok, Erik Somers dan Louis Zweers menerbitkan Koloniale Oorlog: 1945-1949; van Indie naar Indonesie (Perang Kolonial: 1945-1949; Dari Hindia Belanda ke Indonesia). Dalam buku tersebut, mereka memuat foto-foto “subversif” yang disensor oleh pemerintah. Ada foto interograsi dan penyiksaan milisi Indonesia oleh tentara Belanda, foto suasana enterniran dan orang-orang Belanda yang menjadi tawanan Jepang, jasad dua marinir Belanda tergeletak di atas tanah dengan luka sabetan parang di kepala, serta foto Soekarno dan Fatmawati yang disambut gegap-gempita oleh rakyat di Yogyakarta. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *