Kisah Foto yang Menolak Mooi Indie


Dalam situasi politik semacam itulah karya awak Indonesian Press Photo Service atau disingkat IPPHOS menemukan konteksnya. Foto-foto jurnalistik Alex Mendur, Frans Mendur, Justus Umbas, Frans Umbas, Alex Mamusung, Oscar Ganda, dan Malvin Jacob menjadi semacam antitesis terhadap foto propaganda pihak Belanda. Kalau boleh beranalogi, awak IPPHOS ibarat para pelukis yang tergabung dalam Persatuan Ahli Gambar Indonesia (Persagi). Mereka dengan sadar menolak langgam mooi Indie yang selama berabad-abad ditanamkan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Frans Mendur dan kawan-kawan, melalui karya jurnalistik mereka, berusaha menampilkan citra Indonesia sebagai republik baru yang penuh semangat. Dalam foto-foto yang terangkum di buku IPPHOS Remastered Edition karya Yudhi Soerdjoatmodjo, misalnya, citra itu terlihat kentara. Awak IPPHOS berhasil memunculkan dinamika yang sesungguhnya terjadi di Indonesia pada masa penuh gejolak tersebut.

Selain menyajikan peristiwa penting dalam proses pembentukan Republik Indonesia, mulai dari proklamasi kemerdekaan, rapat raksasa di Lapangan Ikada, Perjanjian Linggarjati, Perjanjian Renville, hingga penyerahan kedaulatan RI, IPPHOS juga memproduksi foto-foto perlawanan gigih milisi rakyat bersama TNI di front terdepan. Ada peristiwa Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Karawang-Bekasi, serta perlawanan terhadap agresi militer Belanda.

Pembentukan citra Republik muda tampaknya dilakukan secara sadar oleh awak IPPHOS. Mereka melawan propaganda kolonial melalui foto-foto yang bercorak Indonesia sentris. Para pemimpin Republik, terutama Soekarno, Hatta, Sjahrir, Soedirman dan Sultan Hamengku Buwono IX ditampilkan penuh wibawa dan kharisma. Ke mana pergi, mereka selalu disambut gegap-gempita oleh rakyatnya. Selain rakyat Jawa, Bali, dan Sumatera, para pemimpin itu juga didukung oleh etnis lain yang cenderung diasumsikan sebagai antek kolonial, seperti Minahasa, Maluku, dan Tionghoa. Tak lupa IPPHOS memotret pasukan sukarelawan dari India, Malaysia, Philipina untuk menunjukkan dukungan internasional terhadap Republik Indonesia. Sampai di sini foto-foto IPPHOS memosisikan diri sebagai medium diplomasi yang efektif untuk melawan propaganda pemerintah kolonial.

Ya, IPPHOS, bersama Antara dan Berita Film Indonesia atau BFI bisa disebut sebagai pelopor penggunaan foto sebagai alat perjuangan dan diplomasi, sesuatu yang belum dimanfaatkan oleh para aktivis pergerakan nasional tahun 1920-an. Seperti kita tahu, para aktivis pergerakan menggunakan, organisasi, pemogokan, peberontakan, rapat umum, partai politik, dan tulisan di media massa untuk menyuarakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Barangkali Belanda sejak awal telah menyadari “bahaya laten” fotografi sehingga tak terlalu antusias memperkenalkannya kepada masyarakat bumiputera. Teknologi fotografi dikuasai secara eksklusif oleh orang-orang Eropa serta sedikit orang Tiongkok dan Jepang. Survei fotografer dan studio foto komersial di Hindia Belanda 1850-1940 menunjukkan, dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, 315 dimiliki oleh orang-orang bernama Eropa, 186 orang bernama Tiongkok, 45 orang bernama Jepang dan hanya empat orang bernama lokal. Mereka adalah Kassian Cephas di Yogyakarta, A. Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon. Jika teknologi fotografi telah sampai di Hindia Belanda sejak 1841 (dibawa oleh Juriaan Munich), berarti butuh waktu sekitar satu abad untuk sampai ke tangan segelintir orang Indonesia. Itupun baru digunakan untuk kepentingan komersial.

Fotografi baru menjadi alat propaganda politik yang efektif pada masa pendudukan Jepang. Rezim militer menggunakannya sebagai sarana propaganda untuk kepentingan perang di Asia Raya. Mereka merekrut pewarta foto dari kalangan Indonesia, tak terkecuali Mendur Bersaudara. Alex bekerja di kantor berita Domei, Frans di Koran Asia Raja.

Harus diakui, foto mengandung kekuatan yang tak bisa diremehkan. Soal ini kita bisa berkaca pada karya fotografer Associated Press Eddie Adams yang memenangkan penghargaan Pulitzer tahun 1969. Foto itu memapar aksi koboi Kepala Kepolisian Vietnam Selatan Jenderal Nguyen Ngoc Loan yang menarik pelatuk pistol dan menodongkannya ke kepala seorang komandan gerilyawan Vietkong. Setelah dimuat di sejumlah media ternama, foto itu ternyata mampu mempengaruhi opini publik Amerika Serikat terhadap Perang Vietnam. Di luar dugaan, foto Eddie Adams memicu gerakan antiperang dan menginspirasi lahirnya generasi bunga (The Flower Generation).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *