Liem Thian Joe dan Riwajat Semarang

Oleh Rukardi

 

Riwajat Semarang adalah referensi penting bagi sejarawan yang meneliti masyarakat Tionghoa di pesisir utara Jawa seperti Willmott, Pigeud, de Graaf, dan James R. Rush. Selain dari buku, surat kabar lama dan arsip perkumpulan, Liem Thian Joe menyusun karyanya itu menggunakan catatan-catatan kuno yang tersimpan di Kongkoan.

 

DONALD E. Willmott, guru besar emeritus pada Sociology and Asian Studies, York University, Canada, merasa perlu menulis persembahan khusus di lembaran awal bukunya The Chinese of Semarang: Changing Minority Community in Indonesia (1960): “Kepada Liem Thian Joe, sejarawan Semarang, jurnalis, dan kawan yang telah meletakkan fondasi masa lalu kepada penelitian ini.”

Bagi Willmott, Liem Thian Joe tak hanya seorang jurnalis, namun juga kawan yang banyak memberikan inspirasi dan bantuan. Selain diskusi-diskusi yang mereka lakukan, tentu Willmott amat berutang budi pada Liem, terutama oleh bukunya: Riwajat Semarang, Dari Djamannja Sam Poo Sampe Terhapoesnja Kongkoan. Dari Liem dan bukunya, Willmott beroleh gambaran komperehensif mengenai objek yang diteliti, yakni masyarakat Tionghoa Semarang.

Ya, Riwajat Semarang adalah referensi penting bagi sejarawan yang meneliti masyarakat Tionghoa di pesisir utara Jawa seperti Willmott, T.H. Pigeud, H.J. de Graaf, dan James R. Rush. Buku setebal 300 halaman ini memuat banyak informasi sejarah, terutama yang bersinggungan dengan masyarakat Tionghoa Semarang. Sesuai subjudul, buku ini mencatat aneka peristiwa yang terjadi sejak kedatangan Sam Poo Tay Djien atau Laksamana Cheng Ho (yang menurut Liem tahun 1416) hingga penutupan Kong Koan atau Dewan Opsir Cina Semarang pada 1931.

Ada kisah asal-usul nama tempat, seperti Mangkang, Mrican, Panjangan, Peloran, Bang Inggris, Bon Kenap, Deresan, Bubutan, Logenderan, Cap Kauw King, dan Kranggan. Ada kisah Oei Tje, Kapten Cina Semarang yang gemar minum arak hingga dijuluki Boe Siong. Ada pula kisah jago-jago silat di zaman pachter madat, peristiwa meletusnya Gunung Merbabu pada 1825, banjir besar di Semarang pada 1832, matahari kembar tiga tahun 1846, kebakaran hebat di daerah Ambengan pada 1863, hingga gempa bumi di Wonosobo pada 12 November 1924.

Liem juga mencatat peristiwa pembangunan jalur kereta api Semarang-Solo, penerbitan surat kabar pertama di Jawa, awal mula penggunaan sepeda, Kedatangan Raja Siam, suasana Semarang menyambut penobatan Ratu Wilhelmina, berdirinya klub sepak bola Tionghoa pertama, kisah tandak kondang dari Sangklahan Ambarawa, melangitnya harga gula, awal terbentuknya Pasar Johar, pemogokan besar di Semarang, penangkapan Semaoen, serta awal mula dikenal istilah Indonesia.

Semua tulisan bersumber pada catatan-catatan kuno yang tersimpan di kantor majelis Cina yang disebut Kongkoan. Liem beruntung masih sempat mengakses dokumen beraksara dan berbahasa Tiongkok itu. Pasalnya, tak lama kemudian Kongkoan tutup, dan catatan-catatan penting tersebut hilang entah ke mana. Ia juga melengkapi tulisan-tulisannya dengan referensi dari buku, surat kabar lama, arsip sejumlah perkumpulan, dan sumber-sumber sejarah lain. Liem menulis dalam bahasa Melayu pasar, bahasa yang lazim dipakai oleh masyarakat Tionghoa pada masa itu.

Saat menggunakan arsip Kongkoan sebagai bahan tulisan, Liem melakukan seleksi berdasarkan nilai kepatutan. Dalam “Permoela’an Kata” buku Riwajat Semarang, ia mengaku hanya memilih peristiwa yang dianggap penting untuk diingat. Adapun kejadian buruk yang bisa membuka aib seseorang, keluarga atau kelompok tertentu sengaja disingkirkan.

Riwajat Semarang diterbitkan Boekhandel Ho Kim Yoe (berpusat di Semarang dan Batavia) pada 1933. Sebelumnya, tulisan- tulisan tersebut telah dimuat secara berseri di harian Djawa Tengah Review antara bulan Maret 1931 hingga Juni 1933.

“Tatkala riwajat ini soedah dimoeat abis, sobat saja toean Ho Kim Yoe njataken hendak terbitken ini riwajat djadi boekoe. Begitoelah achirnja riwajat ini sekarang terbit dan terserah atas tangan pembatja,” tulis Liem Thian Joe dalam “Permoela’an Kata”, pengantar buku Riwajat Semarang.

Lantas siapa Liem Thian Joe? Dalam buku Konglomerat Oei Tiong Ham yang disunting oleh Yoshihara Kunio, Charles A. Coppel mengungkap jati diri Liem sebagai penulis sejarah Kian Gwan, perusahaan milik Oei Tiong Ham. Disebutkan, Liem Thian Joe lahir di Parakan, Kabupaten Temanggung, pada 1895 atau 1897. Semasa kecil ia beroleh pendidikan di sekolah-sekolah Melayu dan Jawa, namun kemudian pindah ke sekolah Cina Hokkian selama 10 tahun. Selepas itu Liem masuk ke sekolah Tiong Hoa Hak Tong (THHT), sekolah berpengantar bahasa Cina yang didirikan oleh Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) di Ngadirejo.

Meski bakat dan minatnya dalam bidang tulis menulis telah tampak, setamat THHT Liem tak segera menggeluti dunia itu. Selama beberapa lama ia sempat menjadi pedagang di Ngadirejo. Debutnya sebagai jurnalis baru dimulai saat bergabung dengan Harian Warna Warta, surat kabar peranakan Cina yang terbit di Semarang pada tahun 1920-an. Pada saat hampir bersamaan, Liem juga menulis untuk harian Perniagaan yang terbit di Jakarta.

Awal 1930-an, ia keluar dari Warna Warta dan menjadi penyunting harian Djawa Tengah sekaligus majalah bulanannya Djawa Tengah Review. Setelah itu, Liem bekerja sebagai kontributor tetap untuk edisi minggu Koran Sin Po Jakarta. Pada waktu yang sama, ia merangkap sebagai editor Mimbar Melajoe, sebuah media sastra bulanan yang terbit di Semarang. Di sana Liem pernah menulis beberapa cerita pendek dan dimuat dalam bentuk serial. Ia juga menaruh perhatian lebih pada cerita fiksi dan sejarah Tiongkok.

Lelaki yang meninggal di Semarang pada 1963 itu menggubah beberapa cerita, antara lain roman klasik Tong Tjioe Liat Kok (dimuat di Pewarta Soerabaja), dan Antjoernja Kerajaan Tjien. Selain Riwajat Semarang, Liem Thian Joe juga menulis sejumlah buku, antara lain Boekoe Peringetan, 1907-1937, Tiong Hwa Siang Hwee Semarang yang terbit 1937. Buku itu diterbitkan dalam rangka peringatan 30 tahun pembentukan Kamar Dagang Cina di Semarang (Tiong Hwa Siang Hwee Semarang). Namun di sini, Liem tak menerakan namanya. Buku lainnya adalah Poesaka Tionghwa yang diterbitkan di Semarang pada sekitar tahun 1952.

Selain yang diterbitkan, Liem Thian Joe pada 1959 juga menyusun tulisan yang tak sempat naik cetak, yakni mengenai 100 tahun kiprah Kian Gwan. Tulisan tak berjudul dan diketik di atas 31 halaman folio itu, lebih menyerupai sebuah konsep ketimbang versi yang sudah jadi. Menurut Liem Ek Hian, putranya, Liem Thian Joe dibayar Rp. 10.000 oleh Kian Gwan untuk menyusun sejarah perusahaan skala internasional yang berpusat di Semarang itu. Diduga, tulisan itu batal terbit karena, pada 1961, Kian Gwan dinasionalisasi oleh Pemerintah Indonesia.

Namun dari sekian karya tulis Liem, Riwajat Semarang bisa dibilang paling populer. Pada 2004, buku itu  diterbitkan ulang dengan ejaan yang disempurnakan oleh Hasta Wahana, Jakarta. Harian Radar Semarang juga pernah menerbitkannya dalam bentuk tulisan berseri.

Pemerhati sejarah Jongkie Tio menilai Riwajat Semarang sebagai karya sejarah yang bagus pada zamannya. Dalam buku itu Liem menceritakan banyak peristiwa penting yang terjadi di Semarang, terutama yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat Tionghoa. Saat menulis buku Kota Semarang dalam Kenangan dan Semarang City, a Glance into The Past, Jongkie menggunakan Riwajat Semarang sebagai salah satu rujukan.

Senada dengan Jongkie, Guru Besar Sejarah Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Dewi Yuliati, juga menganggap Riwajat Semarang sebagai sumber yang tak ternilai untuk mempelajari sejarah Semarang dan sekitarnya. Spektrum kajiannya sangat luas sehingga memberi banyak informasi. Dewi mengaku kerap menggunakan buku itu saat melakukan penelitian tentang sejarah Semarang.

Namun di balik kelebihannya, kata Dewi Yuliati, buku itu juga menyimpan kekurangan. Lantaran bukan sejarawan profesional, Liem tak menulis Riwajat Semarang menggunakan metode sejarah yang benar. Karya tersebut lebih menyerupai kronik, karena ditulis secara deskriptif, tidak mendalam, dan disusun berdasarkan urutan kejadian. Untuk itu, Dewi Yuliati merasa perlu melakukan kritik sumber yang ketat ketika hendak menggunakan Riwajat Semarang. Ia harus mengomparasikan fakta historis yang terdapat di dalamnya dengan sumber-sumber sezaman, seperti berita di surat kabar, atau dokumen sejarah lain.

Titik perhatian Riwajat Semarang yang berpusat pada sejarah kota dan kelompok etnis Tionghoa barangkali bisa disebut sebagai kelemahan lain. Namun, menurut Charles A. Coppel, hal itu dapat dipahami dengan melihat kapasitas Liem yang sepanjang hidup tidak pernah berkesempatan bepergian jauh. Ia hampir tidak pernah berdomisili di luar wilayah Jawa Tengah. Adapun sifat Tiongkok-sentris yang dimiliki Liem merupakan gejala khas intelektual Tionghoa pada awal abad ke-20. Sifat tersebut, kata Coppel, terbentuk ketika rasa nasionalisme Cina di kalangan Tionghoa perantauan sedang tumbuh. Nasionalisme terhadap negeri leluhur dikuatkan oleh pendidikannya di sekolah-sekolah Tionghoa.

Namun dengan segala kelebihan dan kelemahannya, Riwajat Semarang telah menjadi jembatan pengetahuan. Ia secara khusus menyambung ingatan warga terhadap masa lalu kotanya, Semarang.  

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *