Menemukan Kembali Kantor Pusat VSTP

Lantas apa itu VSTP, dan apa pula perannya dalam sejarah pergerakan di Indonesia? Vereniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP) didirikan oleh dua tokoh sosialis Belanda: C.J. Hulshoff dan H.W. Dekker pada 1908. Serikat buruh yang berpusat di Semarang itu merupakan pelopor pergerakan buruh di Indonesia. Beda dari pendahulunya, Nederlandsch-Indisch Onderwijzer Genootshap (1897), Staatspoor Bond (1905), dan Postbond (1905), corak VSTP lebih progresif. Progresivitas serikat buruh tersebut bahkan melampaui organisasi yang dibentuk oleh pekerja pribumi, seperti Perhimpoenan Boemiputera Pabean (1911) dan Perserikatan Goeroe Hindia Belanda (1912).Meski diinisiasi oleh orang Belanda, VSTP memosisikan buruh bumiputera setara dengan buruh berdarah Eropa. Ia bukan sekadar organisasi profesi, melainkan mesin pencetak kesadaran kelas kaum buruh sekaligus pemantik kesadaran politik di kalangan masyarakat bumiputera. VSTP disebut-sebut sebagai cikal-bakal gerakan sosial modern di Indonesia.

Ya, pada awalnya VSTP hanya beranggotakan buruh-buruh Eropa yang bekerja di Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscapij (NIS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Seiring waktu, VSTP menerima kalangan buruh bumiputera menjadi anggota. Ketika Henk Sneevliet datang ke Semarang pada 1913, dia segera bergabung ke VSTP. Dia kemudian berhasil memengaruhi pimpinan serikat buruh tersebut untuk menempatkan anggota bumiputera sejajar dengan anggota Eropa. Pada awal 1914, kongres memutuskan, paling tidak tiga dari tujuh pemimpin VSTP harus dari kalangan bumiputera. Kebijakan itu segera menarik buruh bumiputera berbondong-bondong masuk VSTP. Jika pada Mei 1914 komposisi keanggotaan VSTP adalah 701 buruh bumiputera dan 764 buruh eropa, Januari 1915 komposisinya berubah menjadi 1.439 buruh bumiputera dan 853 buruh eropa.

Sukses VSTP kian menarik perhatian kelompok sosialis. Mereka lalu merekrut para aktivis buruh ke dalam ISDV. Sejak 1914, VSTP berada di bawah pengaruh ISDV. VSTP juga memiliki hubungan erat dengan Sarekat Islam Semarang dan Sarekat Rakyat pada masa kemudian. Antara VSTP, ISDV, dan Sarekat Islam Semarang, bisa diibaratkan sebagai tiga simpul pergerakan paling penting di Semarang. Banyak di antara pemimpin dan anggota VSTP merangkap keanggotaan dengan ISDV atau Sarekat Islam Semarang, sebut saja Henk Sneevliet, Muhammad Joesoef, Semaoen, Darsono, Tan Malaka, Adolf Baars, dan Peter Bergsma.

Semaoen, salah seorang aktivis yang kemudian menjadi pemimpin VSTP, membawa serikat buruh ke dalam aksi-aksi yang sangat berani. Mereka mengadvokasi buruh SCS yang berselisih dengan perusahaan soal upah dan ketentuan jam kerja. Mereka juga memperjuangkan hak buruh yang terampas oleh kebijakan efisiensi anggaran oleh Gubernur Jenderal Fock (1921-1926). VSTP bahkan mengancam melakukan pemogokan. Namun pemerintah tak tinggal diam. Pada 8 Mei 1923, Semaoen ditangkap.

Momentum penangkapan Semaoen direspons buruh dengan melakukan pemogokan besar pada keesokan hari. Sebanyak 13.000 dari 20.000 buruh kereta api turut serta. Pemogokan juga didukung kusir dokar dan pedagang pasar. Akibatnya Semarang lumpuh. Tak berhenti di sini, pemogokan meluas ke Batavia, Meester Cornelis (Jatinegara), Solo, Yogyakarta, Jatibarang, Blitar, Nganjuk, dan sejumlah kota lain di Jawa.

Selain perundingan dan pemogokan, awak VSTP menyuarakan garis perjuangannya melalui tulisan. Mereka memiliki surat kabar De volharding dan Si Tetap yang diterbitkan dengan percetakan sendiri. VSTP juga memainkan peranan penting dalam pembentukan Persatoean Perkoempoelan Kaoem Boeroeh Hindia (PPKB), sebuah ikhtiar untuk menyatukan kekuatan elemen buruh di Hindia Belanda.

Pascapemberontakan 1926, organisasi yang memiliki jaringan internasional itu beroleh tekanan kuat dari pemerintah, hingga akhirnya membubarkan diri. Sebagai ganti, didirikanlah Perhimpunan Beamte Spoor dan Tram (PBST) yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Pegawai Spoor dan Tram (PPST) pada Juli 1927. PPST bergerak di bidang nonpolitik dengan haluan tak sekeras VSTP.

Pada masanya, Kantor VSTP di Heerenstraat atau di Jalan Purwodinatan, dan sekarang telah berganti nama menjadi Jalan Letjen Suprapto, digunakan sebagai pusat pengendali organisasi yang memiliki banyak cabang di Jawa dan Sumatera. Di sini kerap diselenggarakan rapat dan vergadering untuk membahas masalah perburuhan dan politik. Tempat ini juga biasa dijadikan sebagai titik simpul aksi massa, seperti dalam aksi pemogokan buruh percetakan dan penerbitan pada 10 Agustus 1925. Gedung ini memiliki arti penting bagi sejarah perburuhan, sejarah perkeretaapian, sekaligus sejarah pergerakan nasional di Indonesia. Maka, semestinya harus dilestarikan.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *