Merunut Akar Perayaan Kemerdekaan

Di luar kantong Republik, peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus 1946 berlangsung dalam suasana mencekam. Di Jakarta, misalnya, polisi dan tentara Inggris berusaha menghalangi orang-orang yang hendak mengikuti perayaan di rumah Menteri Luar Negeri Sutan Sjahrir. Namun upaya itu tak berhasil. Warga, termasuk rombongan pelajar putri yang dipimpin Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso berhasil masuk. Esoknya, mereka bahkan meresmikan Tugu Peringatan Satoe Tahoen Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56. Di Bandung, peringatan dilakukan para gerilyawan Republik di medan pertempuran. Mereka menaikkan bendera merah putih di daerah-daerah yang dikuasai. Untuk menyaingi, pada hari yang sama, Sekutu menggelar peringatan penyerahan Jepang kepada mereka di tengah kota.

Ulang tahun pertama proklamasi juga digelar di New York. Inisiatornya Perserikatan Indonesia yang diketuai John Ando. Dalam perayaan itu, John membacakan surat Sjahrir kepada Presiden Truman. Ia mengecam tindakan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat yang menyembunyikan surat itu.

Peringatan dalam suasana darurat terus berlangsung hingga 1949. Masa yang diwarnai perundingan dan peperangan itu tak memberi keleluasaan kepada rakyat untuk merayakan proklamasi kemerdekaan. Tentara Sekutu tegas melarang peringatan dan perayaan kemerdekaan RI di wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Di Kota Semarang, misalnya, warga tak mau mengambil risiko. Hoeri Prasetyo (89), mantan anggota Barisan Pemberontak Republik Indonesia (Bapri) dan Angkatan Pelajar Indonesia (API) menuturkan, penduduk takut terhadap ancaman Sekutu.

“Jangankan di dalam Kota Semarang, di luar garis demarkasi seperti di Rowosari saja orang masih umpet-umpetan mengibarkan bendera Merah Putih,” ujar pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang dan perang gerilya melawan Sekutu itu.

Kebebasan baru terjadi pascapenyerahan kedaulatan RI pada 1949. Seperti keran yang terbuka setelah sekian lama mampet, masyarakat memperingati HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1950 dengan gegap-gempita. Di Semarang, perayaan dilakukan selama empat hari, mulai tanggal 16 hingga 19 Agustus, dengan agenda acara yang padat. Suara Merdeka edisi 16 Agustus 1950 menyajikan agenda tersebut secara lengkap, mulai dari rapat umum, pemutaran film, doa dan ibadah bersama, renungan, aneka lomba, pentas seni, pemberian santunan, pawai, resepsi, peresmian taman makam pahlawan, penerbangan pesawat Garuda Indonesia di langit kota, hingga pemakaman kembali 17 jenazah pelaku Pertempuran Lima Hari di Semarang.

Rapat umum di alun-alun diawali uraian kisah perjuangan kemerdekaan selama lima tahun, serta sambutan perwakilan pemerintah, buruh, tani, pemuda, dan wanita. Pukul 9.50, sirine, beduk, lonceng, peluit kereta api dibunyikan untuk mengenang detik-detik proklamasi. Setelah itu diikuti pembacaan teks proklamasi, mengheningkan cipta, dan pengibaran bendera diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Sedangkan perlombaan meliputi sepak bola ketentaraan seluruh Jawa Tengah di Stadion, lomba dayung dan layar di pelabuhan,serta lomba estafet, mengarang, dan menggambar antarsiswa sekolah lanjutan. Ada juga lomba menghias etalase toko, kendaraan, dan gapura. Hadiah untuk para pemenang lomba diserahkan di Balai Kota. Turut mendapat hadiah, bayi yang lahir tepat pada 17 Agustus 1950.

Jongkie Tio (75) masih megingat dengan baik perayaan kemerdekaan tahun 1950. Saat itu, dokumentator dan Pemilik Restoran Semarang tersebut melihat langsung pawai yang melintas di Bodjongstraat (sekarang Jalan Pemuda). Pawai diikuti semua golongan, tak terkecuali warga keturunan Tionghoa. Mereka memainkan kesenian liong samsi dan barongsai.

“Papah saya membentangkan tali dari depan tokonya, Semarang Stores, ke toko roti Hoogvelt di seberang jalan. Di tengah tali diikatkan banyak angpau. Pemain barongsai dan liong melompat, mengambil angpau-angpau itu,” tutur Jongkie Tio.

Ayah Jongkie juga ikut lomba menghias etalase toko. Agar lebih menarik, dia menyelipkan huruf dan tulisan tertentu di sela-sela hiasan. Pengunjung diminta menebak huruf dan tulisan yang tertutup itu. Jika benar, akan mendapat hadiah berupa barang.

“Pada tahun-tahun berikutnya, perayaan 17 Agustus tambah meriah. Aneka lomba digelar di kampung-kampung, dari panjat pinang, balap karung, sampai makan kerupuk. Di Kali Semarang ada lomba perang bantal di atas bambu. Yang kalah nyemplung ke sungai.”

Bentuk perayaan 17 Agustus, sangat mungkin mengadaptasi perayaan masa kolonial, terutama ulang tahun Ratu dan hari kemerdekaan Belanda. Namun dari sisi semangat keduanya saling berlawanan. Menarik, bentuk kegiatan dalam perayaan-perayaan itu, beberapa masih lestari hingga sekarang, seperti pawai, upacara militer, dan panjat pinang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *