Merunut Akar Perayaan Kemerdekaan

Sementara itu, peringatan kemerdekaan dalam bentuk lain dilakukan oleh awak media. Menarik, waktu peringatan tidak dalam kelipatan tahun, tapi hitungan enam bulan. Itulah ulah kreatif sekaligus berani yang ditunjukkan oleh para wartawan harian Merdeka. B.M. Diah, Rosihan Anwar, R.M. Winarno, Moh. Soepardi, Soetomo, Darmawidjaja, Mendur bersaudara, dan kawan-kawan, pada 17 Februari 1946 menerbitkan edisi khusus bertajuk “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia”.

Penerbitan ini digarap dengan matang. Sampulnya berupa ilustrasi yang menggambarkan kepalan tangan di antara kobaran api berlatar bola bumi dengan deretan kepulauan Indonesia yang membiaskan cahaya. Di bagian bawah sampul itu tertulis kata “merdeka” yang seluruhnya menggunakan huruf kapital.

Keistimewaan penerbitan khusus ini terletak pada kata sambutan dan tulisan tokoh-tokoh republik terkemuka: Sukarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Pakualam VIII, Paku Buwono XII, Mangkunegoro VIII, Mr. Kasman Singodimedjo, dan sejumlah pejabat republik lainnya.  Penerbitan dilengkapi tulisan wartawan pejuang seperti B.M. Diah, Rosihan Anwar, Adinegoro, Manai Sophiaan, dan Parada Harahap.

Namun satu hal yang tak kalah istimewa adalah kekayaan foto di dalamnya. Ada foto diri para pemimpin revolusi, raja-raja Jawa penyokong republik, serta anggota kabinet pertama dan kedua. Ada pula foto-foto dokumentasi peristiwa penting selama enam bulan terakhir. Dari seluruh foto, dua di antaranya punya nilai sangat penting. Itulah foto detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada 17 Agustus 1945.

Foto-foto karya Soemarto Frans Mendur yang kelak banyak dicetak di buku sejarah tersebut, merupakan dokumentasi satu-satunya atas peristiwa proklamasi. Foto-foto itu diselamatkan Frans dari tentara Jepang dengan cara ditimbun di dalam tanah, di halaman belakang kantor redaksi harian Asia Raja, tempatnya bekerja. Foto-foto Frans menjadi bukti sahih bahwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia benar-benar ada, bukan isapan jempol belaka. Nah, di “Nomor Peringatan 6 Boelan Repoeblik Indonesia” inilah foto-foto proklamasi diterbitkan untuk kali pertama.

Lalu, apa makna penting dari peringatan enam bulan itu? BM Diah dalam tulisan pengantar mengatakan, enam bulan bukan waktu yang lama bagi perjalanan sebuah bangsa, tapi bagi Republik Indonesia punya makna penting. Kurun waktu singkat yang penuh ujian berat itu sangat menentukan arah perjalanan bangsa ke depan. Dan republik muda itu telah sanggup melaluinya. Senada, Presiden Sukarno menganggap perjuangan selama enam bulan pertama telah menorehkan hasil yang baik: Republik Indonesia mulai mendapat pengakuan masyarakat internasional. Namun ia juga mengingatkan pentingnya persatuan nasional sebagai syarat mencapai tujuan perjuangan. “Bersatoelah berdiri dibelakang pemerintah… saat-saat sekarang ini adalah saat jang menentoekan nasib bangsa kita boeat ratoesan tahoen: Oogen blijkken, die het lot van eeuwen beheersen!”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *