Oleh Rukardi

Pada masa lalu, hanya putra raja, bupati, dan keluarga bangsawan yang bisa bersekolah di luar negeri. Tapi ada di antara mereka yang hidup melarat, jadi kuli, hingga meninggal di kamar kos karena tak mampu berobat.     

 

Anggota Perhimpunan Indonesia di Belanda.

Anggota Perhimpunan Indonesia di Belanda.

SIAPA orang Indonesia pertama yang belajar di Eropa? Sejauh yang termaktub dalam dokumen sejarah, Jawabannya adalah empat pemuda Ambon: Marcus de Roy putra raja Kielang, Andrea de Castro putra raja Soya, Laurens de Vretis dari Hative, dan Laurens Queljo dari Halong. Mereka pada Oktober 1620 meninggalkan tanah kelahiran menuju Negeri Belanda.

Cees van Dijk dalam buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda, 1600-1950, menulis: empat pemuda itu dipilih oleh Letnan Gubernur Ambon, Herman van Speult, untuk belajar teologi. Mereka disiapkan menjadi pendeta Kristen yang rencananya memberi pelayanan di Hindia.

Tiba di Belanda pada 1621, Marcus de Roy dan kawan-kawan diterima Pangeran Maurits. Mereka lalu beroleh kesempatan mengunjungi kota-kota penting di negeri itu. Dengan biaya dari VOC mereka ditempatkan di rumah Pendeta Petrus Wassenburgius di Amersfoort untuk belajar agama Kristen dan Bahasa Latin. Dari sana, pemuda-pemuda pilihan itu dipindahkan ke Leiden, yang saat itu memiliki seminari baru. Namun van Dijk tak yakin apakah mereka akhirnya benar-benar belajar di sana. Sebab sebuah dokumen sahih tak menerakan nama mereka dalam daftar siswa seminari itu.

Pada 1630, tiga dari empat pemuda itu: Marcus de Roy, Andrea de Castro, dan Laurens de Fretis, kembali ke Ambon (Laurens Queljo meninggal di Belanda). Namun mereka tak menunjukkan minat terhadap agama Kristen. Alih-alih jadi pendeta, Marcus de Roy dan kawan-kawan malah diangkat menjadi kadet laut.

Jauh hari kemudian, tepatnya pada 1898, seorang pemuda Jawa secara sadar melanjutkan studinya ke Belanda. Ia adalah RM Panji Sosrokartono, putra Bupati Jepara R.M. Adipati Aryo Sosroningrat, yang juga kakak kandung R.A. Kartini. Setamat Eropesche Lagere School di Jepara dan Hogere Burger School di Semarang, pemuda cerdas itu berlayar ke Belanda. Awalnya ia belajar di sekolah tinggi teknik di Delft. Namun karena tak merasa cocok, ia pindah ke Fakultas Sastra dan Filsafat di Universitas Leiden. “De Mooie Sos“ atau Sos yang tampan, sapaan Sosrokartono, punya bakat besar dalam bidang bahasa. Ia disebut-sebut menguasai sekitar 20 bahasa, baik bahasa di Nusantara maupun internasional. Namun di Leiden, ia hanya mendapatkan gelar doctorandus, tanpa pernah menyelesaikan promosi doktoralnya.

“De Javanese Prins“ atau Pangeran dari Tanah Jawa, sapaan Sosrokartono yang lain, kemudian memilih bekerja. Mula-mula ia menjadi wartawan perang The New York Herald, lalu juru bahasa di Volken Bond atau Liga Bangsa-bangsa.

Setelah Sosrokartono, sejumlah pemuda Hindia Belanda menyusul sekolah ke Eropa. Mereka seluruhnya berasal dari lapisan atas masyarakat bumiputera, antara lain Abdul Rivai (putra pasangan Abdul Karim, seorang guru, dan Siti Kemala Ria yang masih keluarga raja di Moko-moko, Bengkulu), R.M. Noto Soeroto (putra Pangeran Aryo Notodirodjo dari keluarga Pakualaman), R.M. Soerjo Soeparto (putra Mangkunegara V). Pangeran Ario Hoesein Djajadiningrat (putra Raden Bagoes Djajawinata, Bupati Serang), dan K.R.A. Arya Soemitro Kolopaking (putra K.R.A.A. Jayanegara II, Bupati Banjarnegara).

Banyaknya pemuda Hindia Belanda yang belajar di Eropa dipengaruhi oleh kebijakan politik etis yang dicetuskan van Deventer pada 1901. Selain Belanda dan sejumlah negara Eropa, Mesir juga menjadi tujuan belajar pemuda Hindia.

Martin van Bruinessen, guru besar kajian Islam Universitas Utrecht, menyebut Abdul Manan Dipomenggolono, sebagai orang Hindia pertama yang belajar di Universitas Al Azhar Kairo. Ia yang kemudian ia dikenal sebagai pendiri Pesantren Tremas di Pacitan, Jawa Timur itu, berlayar ke Mesir pada medio abad ke-19. Memasuki abad ke-20, mereka yang kuliah di Al Azhar juga berasal dari luar jawa.

Meski berasal dari keluarga terkemuka, bukan berarti mereka didukung dana belajar yang memadai. Banyak dari mereka yang harus hidup nelangsa di Eropa. Dr. Abdul Rivai dalam buku Student Indonesia di Eropa (berasal dari kumpulan artikel berseri di surat kabar Bintang Timoer antara November 1926Mei 1928) menggambarkan kenelangsaan itu. Ada yang jatuh melarat di Paris, menjadi kuli di Brussel, sakit tapi tak sanggup berobat ke dokter, hingga yang paling tragis anak seorang raja yang sakit dan meninggal di kamar kosnya di Swiss.

Jauh dari tanah air menumbuhkan rasa solidaritas. Mereka pun saling membantu, baik dalam urusan belajar, keuangan, hingga politik. Solidaritas inilah yang kemudian melahirkan Indische Vereniging atau Perhimpunan Indonesia, organisasi pencetus Manifesto Politik 1925, yang menurut Prof. Sartono Kartodirdjo lebih fundamental ketimbang Sumpah Pemuda.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *