Peran Tiongkok dalam Islamisasi di Jawa, Antara Mitos dan Fakta.

Oleh Rukardi

“Teori Tiongkok” dalam proses Islamisasi di Jawa rupanya bersumber dari Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon. Graaf dan Pigeaud menyarankan untuk kritis terhadap naskah yang terlampir dalam buku Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan itu.

 

PADA 1968 terbit sebuah buku yang menghebohkan dari mendiang Prof Dr Slamet Muljana: Runtuhnja Keradjaan Hindu-Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara. Buku itu heboh karena selain memunculkan peran orang-orang muslim dari Tiongkok pada proses Islamisasi di Jawa, juga menyebut sejumlah walisanga berdarah Tionghoa. “Teori Tiongkok” Slamet Muljana lahir dari pembacaannya terhadap sumber-sumber sejarah tradisional seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kandaning Ringgit Purwa, serta yang terpenting, Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon yang menjadi lampiran buku Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan.

Dalam bukunya, Slamet Muljana mengungkapkan, menguatnya Islam di Jawa tak lepas dari peran orang-orang Tiongkok muslim bermazhab Hanafi yang datang dari Campa atau Yunan pada masa Majapahit. Di Tiongkok Selatan, terutama Yunan, Shensi dan Hopei, Islam mazhab Hanafi berkembang pesat pada masa dinasti Ming. Laksamana Cheng Ho, pemimpin armada laut dinasti itu, banyak melibatkan orang Islam dari Yunan dalam muhibah yang dia lakukan. Salah satunya Ma Huan.

Di sisi lain, Slamet Muljana juga mengurai silsilah Walisongo yang berasal dari Tiongkok. Sunan Ampel atau Raden Rahmat, kata dia, adalah Bong Swi Hoo, penganut mazhab Hanafi dari Campa. Bong Swi Hoo merupakan cucu Bong Tak Keng, orang yang dikuasakan oleh Cheng Ho untuk mengurus masyarakat Tionghoa (Islam) di penjuru Asia Tenggara. Pada 1445, Bong Swi Hoo ditugaskan Bong Tak Keng ke Palembang untuk membantu Swan Liong atau Arya Damar, putera Raja Majapahit Wikramawardhana. Dia lalu dikirim ke Jawa dan ditempatkan sebagai kapten Tionghoa di muara sungai Brantas (Kali Porong) pada 1447-1451.

Tahun 1476, Bong Swi Hoo menikah dengan Ni Gede Manila, puteri Gan Eng Chu, mantan kapten Tionghoa di Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423. Dari pernikahan itu lahirlah Sunan Bonang. Sunan Giri adalah putera paman Sunan Ampel, Sayid Ishak yang juga berasal dari Campa. Dia putera dari Bong Tak Keng. Adapun Sunan Kalijaga atau Raden Said tak lain adalah Gan Si Cang, Sunan Kudus atau Jakfar Shadik adalah Ja Tik Su dan Sunan Gunung Jati adalah Toh A Bo.

Rezim Orde Baru yang baru berkuasa menganggap paparan guru besar dari Universitas Indonesia itu dapat membahayakan stabilitas politik di Indonesia. Dengan semangat anti-Tionghoa pascaperistiwa 1965, materi yang terkandung dalam buku Slamet Muljana pun tak boleh mengemuka. Tahun 1971, Kejaksaan Agung RI secara resmi membreidel buku itu. Pasca-Reformasi 1998, “teori Tiongkok” dalam proses Islamisasi di Jawa menemukan momentum untuk kembali muncul. Sejumlah penulis dan pemerhati sejarah mencoba menghidupkan kembali tesis yang sengaja dihilangkan itu.

Sumanto Al Qurtubi, misalnya, menyatakan teori-teori Islamisasi Jawa yang selama ini ada, baik “teori Arab” (pedagang Hadramaut) atau “teori India (Gujarat) tak bisa lagi dipertahankan. Dalam Laksamana Cheng Ho dan Asia Tenggara (Leo Suryadinata-Ed), dia menulis “teori India” hanya mendasarkan diri pada sejumlah argumentasi yang bersifat hipotesis. Pengaruh pedagang-pedagang Gujarat dalam proses Islamisasi, disimpulkan dari konstruksi masjid beratap susun menyerupai bentuk meru pada bangunan ibadah orang-orang Hindu. Sedangkan “teori Arab”, ia katakan lebih lemah lagi. Mengutip karya Van den Berg, Le Hadhramout Et. Les Colonies Arabes Dans L’archipel Indien, Sumanto menunjukkan fakta bahwa orang-orang Arab dari Hadramaut baru menunjukkan aksistensinya di Jawa pada tahun-tahun terakhir abad ke-18. Padahal proses Islamisasi di Jawa sudah berlangsung sejak abad ke-15.

Sumanto, seperti halnya Slamet Muljana juga mencari pembenaran tesisnya dari sumber-sumber sejarah tradisional, sumber Tiongkok, kesaksian pengelana asing, dan cerita tutur. Menurutnya, meski berbumbu mitos, bukan berarti sumber-sumber tradisonal yang tak dianggap oleh penulis-penulis Barat itu sama sekali tak berguna. Dengan kritik yang ketat, kisah-kisah yang termuat dalam babad, serat, hikayat, dan cerita tutur dapat mengisi wilayah-wilayah kosong dalam sejarah Indonesia.

Babad Tanah Jawi, Serat Kandaning Ringgit Purwa, Carita (Sejarah) Lasem, Babad Cerbon, dan Hikayat Hasanuddin misalnya, secara aksplisit memuat keberadaan muslim Tionghoa pada masa awal perkembangan Islam di Jawa. Menarik, semuanya menyebut Raden Patah, raja Islam pertama di Jawa (Demak Bintoro), sebagai keturunan Tionghoa.

Cerita tutur yang berkembang di daerah Kudus membabar tokoh bernama Kiai Telingsing (Tan Ling Sing).Dia yang dikatakan sebagai mitra dakwah Sunan Kudus (Jakfar Shadiq) itu, makam dan ajarannya masih dikeramatkan warga. Adapun sumber-sumber Tiongkok, terutama kitab Ying-yai Sheng-lan karya Ma Huan dan Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) mengungkap keberadaan komunitas Tionghoa di pesisir utara Jawa pada awal abad ke-15. Mereka berasal dari Kanton, Zhangzhou, Quanzhou, dan daerah China bagian selatan lain. “Teori Tiongkok” dalam proses Islamisasi Jawa, tak urung memantik perhatian sejarawan Belanda, H.J. de Graaf dan Th. G.Th. Pigeaud. Namun, beda dari Slamet Muljana dan Sumanto, keduanya berhati-hati dalam mengambil kesimpulan.

Dalam karyanya kolaboratifnya: Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historisitas dan Mitos, Graaf dan Pigeaud mengkritik habis Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon yang menjadi pangkal “teori Tiongkok”. Menurut mereka naskah itu telah melalui penyuntingan berulang kali, sehingga mempercayainya seratus persen adalah bentuk kecerobohan. Kendati demikian, Graaf dan Pigeaud percaya, di antara teks-teks Catatan Melayu yang kontroversial itu terselip fakta historis yang bisa dipercaya. Untuk itu perlu dipilah secara cermat antara yang mitos dengan yang fakta.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *