Peran Tiongkok dalam Islamisasi di Jawa, Antara Mitos dan Fakta.

Ketika menyusun De Eerste Moslimse Vorstendomen op Java pada awal 1970-an, H.J. de Graaf dan Th. G.Th. Pigeaud telah mengenal Catatan Tahunan Melayu Semarang dan Cirebon, yang terlampir dalam buku Tuanku Rao karya Mangaraja Onggang Parlindungan (terbit pada 1964). Namun saat itu, Graaf dan Pigeaud hanya memandangnya sebelah mata. Mereka mengabaikan teks yang ditulis ulang oleh Parlindungan dengan bahasa Melayu bercampur Inggris itu. Alasannya, kisah sejarah yang termuat dalam Catatan Tahunan Melayu terasa asing.

Beberapa waktu kemudian, Graaf dan Pigeaud berubah pandangan. Mereka melihat naskah kontoversial yang aslinya berjudul “Peranan Orang Tionghoa/ Islam/ Hanafi di dalam Perkembangan Islam di Pulau Jawa, 1411-1564” itu punya kisi-kisi yang bisa dimanfaatkan. Tentu saja setelah melalui kritik yang teramat ketat. Untuk menemukan fakta dalam teks itu, Graaf dan Pigeaud melakukan komparasi dengan sumber-sumber Eropa dan Tiongkok. Langkah itu salah satunya untuk memperoleh ketepatan kronologi dari peristiwa-peristiwa yang dipapar.

Lantas, dari mana sesungguhnya asal mula Catatan Tahunan Melayu? Parlindungan, dalam bukunya menjelaskan, naskah itu ia terima dari seorang pejabat Belanda bernama Poortman. Dikatakan pula Poortman seorang murid Snouck Hurgronye dan guru dari van Leur. Namun dalam penelusuran Graaf dan Pigeaud, nama Portman tak pernah tertemukan dalam direktori pejabat Hindia Belanda.

Menurut Parlindungan, naskah asli berbahasa Tiongkok diambil Poortman dari arsip yang terdapat di kelenteng di Semarang dan Talang, Cirebon, pada dekade ketiga abad ke-20. Khusus bagian Semarang, MC Ricklefs yang menjadi editor buku Graaf dan Pigeaud, Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI Antara Historisitas dan Mitos, menduga, sebagian ditulis oleh para administrator Tionghoa yang kurang terdidik, suatu kongsi, atau para pedagang dan pemilik kapal yang menganut Islam pada abad ke-15 dan ke-16. Naskah itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Tionghoa Melayu, yang mungkin dilakukan oleh ilmuwan Tionghoa atau sinolog Eropa yang tinggal di Jawa.

Parlindungan menulis kembali Catatan Tahunan Melayu dengan bahasa gaul Melayu-Inggris. Hal itu dimaksudkan untuk menarik perhatian pemuda, yang kala itu berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, kepada sejarah Islam. Parlindungan, meski mungkin fasih berbahasa Belanda menghindari kata-kata dalam bahasa itu.

Parlindungan sendiri, seorang lelaki Batak yang dapat menikmati pendidikan kolonial di Medan, sebelum Perang Dunia II. Ia kemudian tumbuh menjadi seorang nasionalis yang gigih dan muslim yang fanatik. Ia pernah menjadi insinyur militer Tentara Republik Indonesia yang menentang agresi militer Belanda di Jawa pada 1947-1948. Latar belakang itu mendasari Parlindungan menulis Tuanku Rao, buku yang khusus dipersembahkan kepada sang putra kesayangan: Sonyboy.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *