Oleh Rukardi

Pada masa Soekarno, ia dinyatakan sebagai perintis kemerdekaan. Sempat dikubur di permakaman Tionghoa Kedungmundu, jenazahnya lalu dipindah ke taman makam pahlawan.

 

Lie Eng Hok dan makamnya.

Foto: Lie Eng Hok dan makamnya.

DARI ratusan nisan di Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal Semarang, dua di antaranya menerakan nama Tionghoa: Kho Siang Bo dan Lie Eng Hok. Siapa mereka, hingga jasadnya beroleh penghormatan di sana?

Tak banyak informasi mengenai Kho dan Lie yang bisa diperoleh di kompleks pemakaman itu. Selain nama, hanya ada keterangan supersingkat yang terpahat di nisan mereka. Di bawah tulisan Kho Siang Bo, misalnya, tertera nama alias “Djoeani, angkatan muda gugur -45”. Sedangkan di nisan Lie Eng Hok tertera “perintis kemerdekaan RI, lahir: 17-2-1893, wafat: 27-12-1961”.

Para petugas di Giri Tunggal mengaku tak punya data lengkap mengenai riwayat perjuangan Kho dan Lie. Mereka hanya bisa menjelaskan tak lebih dari apa yang tertera di nisan. Jati diri Kho Siang Bo sejauh ini masih gelap. Namanya tak tertemukan dalam buku sejarah mana pun. Melihat keterangan di nisan, barangkali ia seorang pemuda pejuang yang gugur dalam peristiwa Lima Hari di Semarang, atau pertempuran-pertempuran lain di seputar Semarang.

Sementara nama Lie Eng Hok tertemukan, setidaknya dalam dua buku, yakni Peranakan Idealis, dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya tulisan H. Junus Yahya, serta Arit dan Bulan Sabit: Pemberontakan Komunis 1926 di Banten karya Michael C. Williams. Menurut Junus, Lie adalah orang yang teguh pendirian dalam membela Indonesia. Semasa muda ia aktif sebagai wartawan surat kabar Sin Po dan berkarib dengan Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Dari Wage, Lie belajar banyak tentang cita-cita kebangsaan. Ketika pecah huru-hara November 1926 di Banten, Lie dituduh sebagai ‘’otak’’ pemberontakan. Pascahuru-hara, ia ditangkap dan diasingkan di Boven Digoel selama lima tahun (1927-1932). Namun, dalam tulisan itu, Junus tak menyebut peran yang dimainkan Lie.

Sedikit lebih terang paparan Michael C. Williams. Meski serbaterbatas, ia mengungkap sepak terjang Lie (ditulis dengan ejaan Lee Eng Hock) sebagai kader awal Partai Komunis Indonesia di Banten. Lie termasuk orang yang turut merumuskan langkah partai itu dalam menggalang dukungan masyarakat Banten melawan penguasa Kolonial Belanda. Ia bersama sejumlah buruh percetakan De Banten Bode di Serang kerap melakukan pertemuan rahasia dengan Ketua PKI Batavia, Ahmad Bassaif dan Puradisastra. Pertemuan paling sering diadakan di toko sepeda milik Djarkasih di Pasar Serang. Salah satu keputusan penting yang diambil dalam rapat-rapat itu adalah perlunya PKI memperjuangkan pemberian uang pensiun kepada keturunan Sultan Banten. Dengan langkah itu, partai komunis dapat menancapkan pengaruhnya di wilayah Banten.

Setelah memeroleh banyak dukungan, pada 9 Oktober 1925, PKI Seksi Banten resmi berdiri dengan ketua Puradisastra. Lie Eng Hok menyediakan bangunan miliknya di Pasar Serang sebagai kantor partai. Perlahan tapi pasti, PKI berhasil menggalang dukungan rakyat Banten
untuk memberontak. Selama beberapa hari pada bulan November 1926, massa menyerang rumah-rumah pejabat kolonial, seperti wedana, dan asisten wedana di sejumlah wilayah. Mereka juga merusak fasilitas umum seperti, jalan, jembatan, jaringan telepon, serta rel kereta api.

Namun, karena kurang matang, pemberontakan itu dapat ditumpas oleh pasukan militer kolonial. Setelah itu pemerintah memburu dan menangkapi para pemberontak. Lie yang merasa menjadi target melarikan diri ke Semarang. Di kota ini ia membuka usaha jual-beli buku loak. Menurut Kaspin, kawan dekat Lie, toko itu terletak di Jalan Gajahmada. Karena acap membeli buku-buku loak dari orang-orang Belanda, lelaki kelahiran Desa Balaraja, Tangerang, 7 Februari 1893 tersebut punya banyak informasi. Nah, informasi yang terkait dengan soal-soal politik, ia sampaikan kepada kawan-kawan pergerakan.

‘’Dia sering mengirimkan surat buat sesama kaum pergerakan. Beberapa kali juga pernah mencarikan mereka penginapan saat berkunjung ke Semarang,’’ kata Kaspin, di rumahnya, Jalan Magersari III No 70 Semarang, pada bulan Maret tahun 2005.

Suatu ketika, tindak-tanduk Lie terendus. Ia tertangkap basah saat hendak menyampaikan surat dari aktivis pergerakan yang disembunyikan di dalam buku loaknya. Sebagai hukuman, Lie harus mendekam di Boven Digoel (Tanah Merah Papua), pusat pengasingan tahanan politik Pemerintah Kolonial Belanda.

Di pengasingan, ia mencari penghasilan tambahan dengan membuka kios tambal sepatu. Mengutip Sin Po edisi 6 September 1930, buku Junus memuat foto Lie Eng Hok di Boven Digoel sebagai ‘’toekang tambel sepatoe’’ bersama U. Pardedeh, bekas Hoofd Redacteur Soeara Kita Pematang Siantar.

Setelah dibebaskan, Lie pulang ke Semarang dan kembali menekuni usaha jual beli buku loaknya. Pada masa pemerintahan Soekarno, ia dinyatakan sebagai perintis kemerdekaan RI, berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Lelaki itu juga berhak menerima uang tunjangan Rp 400 per bulan. Lie Eng Hok meninggal dunia pada 27 Desember 1961.

Semula jenazahnya dimakamkan di permakaman Tionghoa Kedungmundu. Namun atas upaya Kaspin–yang merupakan Ketua Perintis Kemerdekaan Cabang Semarang–kerangkanya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan pengesahan SK Pangdam IV/ Diponegoro No. B/ 678/ X/ 1986. Patriot bermata sipit dan berkulit kuning itu kini telah bersemayam dengan tenang di tempat yang memang setara dengan jasa-jasa yang pernah ia perbuat untuk bangsa dan negaranya.

This article has 2 comments

  1. Souw TikHien Reply

    I would like to share these documents to tell more about by grand-pa-in-law, as he was uprising my mother after he had been released from Boven-Digoel.

    Rotterdam, The Netherlands

    11 March 2017

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *