Oleh Rukardi

Cas datang ke Indonesia pada awal 1947 sebagai juru foto kantor penerangan Belanda sekaligus kontributor penerbitan ABC Press dan Contact yang berhaluan progresif. Secara pribadi, ia berkehendak mengampanyekan penyelesaian damai proses kemerdekaan Indonesia lewat foto-fotonya.

Salah satu karya foto Casparus Bernadus Oorthuys (1947).

Salah satu karya foto Casparus Bernadus Oorthuys (1947).

ANDAI Casparus Bernadus Oorthuys seorang sejarawan, ia mungkin sulit untuk diposisikan. Sebagai seorang Belanda, karya-karyanya tentu ditempatkan pada wilayah Neerlandosentris. Namun jika dicermati, karya-karya itu justru berkebalikan. Cas, demikian Casparus akrab disebut, ”menulis” sejarah negeri ini dengan perspektif Indonesia.

Cas bukan sejarawan. Ia adalah juru foto di kantor penerangan Belanda yang pada awal 1947 datang ke Indonesia, untuk mendokumentasikan apa-apa yang terjadi di sana. Di luar itu, Cas sekaligus bekerja untuk penerbitan ABC Press dan Contact yang berhaluan progresif.

Berbekal kamera format medium Rollieflex 6×8, Cas mendokumentasikan aktivitas masyarakat di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Bandung, Malang, dan Yogyakarta. Di tengah tarik ulur kepentingan yang ada, Cas lebih mengedepankan kata hatinya. Ia membidikkan lensa kamera, menggunakan empatinya sebagai manusia. Hingga, foto-foto yang dihasilkan lebih terasa humanis dan memunculkan dinamika Indonesia sebagai sebuah bangsa yang baru saja merdeka. Ada semangat, ada demokrasi, namun ada pula paparan luka-luka yang belum tersembuhkan sepenuhnya.

Semangat dan kegairahan terlihat pada wajah-wajah manusia Indonesia yang menjadi objek foto-fotonya. Tak cuma para pemimpin politik, namun juga masyarakat biasa, laiknya buruh, petani, prajurit kelaskaran, dan mahasiswa. Dilihat dari kacamata estetika, foto-foto Cas tak terlampau istimewa, bahkan boleh dikata bersahaja. Sudut pengambilan foto yang digunakan pun kerap sejajar dengan pandangan mata. Namun seperti dikatakan Alex Supartono, kekuatan foto-foto Cas terletak pada kesahajaannya. Demikian bersahaja, ia seperti tak tampak sedang menghadirkan apa yang dilihatnya, namun membagikan apa yang ia lihat dan rasakan itu.

Salah satu di antara karya paling kuat adalah foto seorang bocah yang berjalan menjinjing peta Indonesia dalam gulungan setengah terbuka. Wajahnya mendongak ke atas, dengan mulut melepas tawa. Bocah laki-laki berbaju goni dan bertelanjang kaki itu seperti tak peduli, ada sejumlah kawan yang memperhatikannya dari beranda.

Tak terlampau jelas, apakah karya Cas itu sebuah foto konsep atau foto jurnalistik yang dibuat tanpa rekayasa. Yang jelas, ia sanggup mewakili kegairahan sebuah bangsa yang menyambut masa depannya seluas samudera. Bocah itu adalah Indonesia, yang kurus dan compang-camping, tapi tetap mencoba melangkah tegak ke muka. Menjelang kematiannya pada 1975, Kantor Pos Belanda meminta Cas menentukan foto-fotonya untuk dibuat menjadi seri perangko. Salah satu foto yang ia pilih adalah potret sang bocah menenteng peta.

Semangat dan kegairahan juga tertampakkan pada wajah-wajah mahasiswa yang ia potret saat melakukan upacara bendera di halaman kampusnya. Mereka tampak bersama-sama menghormat Sang Dwi Warna dengan sikap tegak sempurna. Ada pula kegairahan yang terpancar melalui senyum para perwakilan Komisi Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang tengah melakukan pose bersama. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *