Perubahan politik, mengembuskan angin demokrasi di Indonesia. Cas mengabadikan proses transformasi itu pada sejumlah foto. Taruh misal, peristiwa protes Ratu Langi, putri Gubernur Sulawesi yang menjadi perwakilan KNIP, menentang kebijakan pemerintah yang ia nilai keluar dari platform kesepakatan. Atau, aktivitas sekumpulan anak muda yang belajar berpolitik, melalui forum diskusi dan perdebatan.

Tak lupa, lelaki dengan koleksi terbanyak di Museum Fotografi Belanda itu juga menyajikan fakta seputar kehidupan rakyat yang nestapa dan memilukan. Dua panel foto berobjek anak-anak yang kelaparan. Mereka dengan tulang iga yang bertonjolan duduk di hamparan tanah yang berlapis rerumputan. Panel lain menggambarkan perempuan berdesak-desakan saat antre makanan, dan para romusha yang berimpitan di gerbong kereta, sepulang dari kamp konsentrasi militer Jepang.

Di luar itu, aktivitas buruh pabrik goni di Malang, buruh perajin perak di Yogyakarta, serta kegiatan buruh galangan kapal di Kalimantan tak lepas dari bidikan lensa kameranya. Yang menarik, Cas menyempatkan diri menengok kehidupan serdadu belanda di balik bilik asrama. Seorang tentara ia potret sedang membaca surat-surat yang dikirim oleh orang-orang tercinta di negeri asalnya. Wajah sang tentara menyiratkan rindu yang dalam.
Foto-foto hasil perburuannya selama dua bulan di Indonesia tersebut kemudian diterbitkan di Belanda dengan judul Een Staat In Wording, hanya beberapa bulan setelah kepulangannya.

Kecenderungan Casparus Bernadus Oorthuys memilih objek-objek foto bersifat humanis, tak lepas dari latar belakang kehidupannya. Sedari muda, ia banyak bersentuhan dengan dunia pergerakan, terutama melakukan perlawanan terhadap Nazi. Lelaki yang mengawali karier sebagai seorang arsitek itu pernah terlibat dalam pameran internasional menentang kediktatoran Nazi dalam Olimpiade Berlin. Pernah menjadi fotografer mingguan sosialis Wij pada 1936.

Mei 1944, Cas sempat ditangkap Gestapo dan dikirim ke Kamp Konsentrasi Amersfoort, selama tiga bulan. Selepas itu ia menggabungkan diri dalam De Oon dergedoken Camera (Hidden Camera), kelompok fotografer bawah tanah yang mendokumentasikan kondis Belanda di bawah pendudukan Nazi. Foto-foto Cas pada periode ini merupakan salah satu karya terbaiknya. Ia kemudian diterbitkan bersama dalam sebuah buku berjudul Amsterdam Tijdens de Hongerwinter (1947). Dua puluh tiga tahun kemudian foto-foto itu diterbitkan lagi ke dalam buku foto 1944-45 Het laatste jaar.

Keberangkatannya ke Indonesia sebagai juru foto kantor penerangan Belanda sesungguhnya karena terpaksa. Ia justru lebih punya kegairahan, menjalankan tugas sebagai agen penerbitan ABC Press dan Contact. Namun, mengingat dua penerbitan berhaluan progresif itu memberi dana terbatas untuk penugasannya, Cas menerima tawaran pemerintah. Hal itu dilakukan, semata untuk mendukung operasional tugas-tugas ABC Press dan Contact yang sejalan dengan keinginan hatinya. Secara pribadi, Cas berkehendak mengampanyekan penyelesaian damai proses kemerdekaan Indonesia lewat foto-foto yang dibuatnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *