Oleh Rukardi

Melalui 81 foto dan caption yang terangkai runtut, buku ini berupaya menyodorkan versi baru yang relatif lebih terang ihwal akhir hidup Kartosoewirjo. Tapi belum bisa dikatakan sahih secara metodologi.

 

Akhir hidup Kartosoewirjo (sumber: Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII)

Akhir hidup Kartosoewirjo (sumber: Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII)

INILAH satu dari sedikit buku sejarah yang menggunakan foto sebagai sumber utama. Ini pula satu dari sedikit buku foto yang penerbitannya diikhtiarkan untuk merekonstruksi peristiwa sejarah di Indonesia. Ya, seturut judul, Hari Terakhir Kartosoewirjo: 81 Foto Eksekusi Imam DI/TII memuat foto-foto yang menggambarkan aktivitas Imam Darul Islam/Tentara Islam Indonesia, Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo pada hari terakhir hidupnya. Sebanyak 81 foto itu disusun secara kronologis, mulai dari pertemuan terakhir sang Imam dengan istri dan anak-anaknya di sebuah rumah tahanan militer di Jakarta, menunaikan salat taubat, ditumpangkan kapal menuju Pulau Ubi di Kepulauan Seribu, ditembak mati oleh sepasukan tentara, hingga prosesi pemakaman jasadnya yang “dingin” sonder dihadiri anggota keluarga.

Disebut “satu dari sedikit”, karena memang tidak banyak buku sejarah yang disusun menggunakan format semacam ini. Umumnya rekonstruksi sejarah dilakukan secara konvensional, yakni merangkaikan fakta-fakta sejarah menjadi narasi tekstual. Dalam buku sejarah yang konvensional itu, penulis atau sejarawan mengungkap peristiwa yang telah lampau menggunakan perangkat metodologi dan melewati serangkaian prosedur yang dikenal sebagai metode sejarah. Dimulai dari penentuan tema, pengumpulan data, kritik sumber, interpretasi, hingga menuliskannya menjadi kisah sejarah.

Namun buku Hari Terakhir Kartosoewirjo yang disusun oleh Fadli Zon seolah tak membutuhkan prosedur baku tersebut. Dengan kekuatan foto-foto yang terdapat di dalamnya, buku ini seperti sudah dapat bercerita sendiri. Rangkaian foto itu dengan detail dan runtut mendeskripsikan akhir hidup salah seorang tokoh yang turut mewarnai bahkan mempengaruhi perjalanan sejarah Indonesia. Hari Terakhir Kartosoewirjo menjadi bermakna lantaran berusaha memaparkan dengan gamblang sebuah fakta yang sebelumnya samar, bahkan masih menjadi tanda tanya.

Seperti kita tahu, akhir hidup tokoh yang dituduh makar, berkehendak membunuh Presiden Soekarno, dan berikhtiar membentuk Darul Islam yang terpisah dari Republik Indonesia tersebut, selama ini berselubung misteri. Orang hanya bisa menduga-duga, di mana dan dengan cara apa Kartosoewirjo dieksekusi, serta di mana letak kuburnya. Salah satu versi cerita yang paling dipercayai publik menyebutkan, penggagas sekaligus proklamator Negara Islam Indonesia itu dieksekusi dan dimakamkan di Pulau Onrust. Dan faktanya, di pulau yang termasuk gugus Kepulauan Seribu itu terdapat sebuah makam di dalam cungkup bambu yang selama bertahun-tahun diyakini sebagai kubur sang Imam. Versi cerita lain memaparkan, eksekusi Kartosoewirjo dilakukan tak prosedural dan jasadnya tidak diperlakukan sesuai syariat Islam. Versi yang lebih ekstrem menyebutkan, Kartosoewirjo yang dianggap kebal senjata gagal dieksekusi dan masih hidup. Sejumlah orang mengaku melihat dia di sejumlah tempat pascapelaksanaan eksekusi.

Kehadiran buku Fadli Zon seperti mematahkan praduga dan keyakinan itu. Melalui 81 foto dan caption yang terangkai runtut, buku ini berupaya menyodorkan versi baru yang relatif lebih sahih. Dipaparkan oleh foto-foto itu bahwa Kartosoewiryo ditembak mati di Pulau Ubi yang terletak sekitar tiga kilometer di sebelah utara Pulau Onrust. Foto-foto hitam putih tersebut juga memperlihatkan secara terang-benderang bagaimana jasad sang Imam diperlakukan. Meski dieksekusi sebagai pesakitan, sebelum dikubur, jenazah Kartosoewirjo tetap dimandikan, dikafani, dan disalatkan.


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *