Sebagai sumber informasi sejarah, foto atau data visual memiliki sejumlah keunggulan dibanding dokumen tekstual. Ada ungkapan bahwa foto (yang baik) mampu “berbicara” sama baiknya dengan seribu kata. Visualisasi objek di dalam selembar foto adakalanya mengandung data yang terjangkau oleh arsip tertulis. Tiga foto yang dibuat Frans Mendur pada pagi menjelang siang tangal 17 Agustus 1945, misalnya, merekam dengan baik suasana detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Foto pertama menggambarkan Soekarno yang didampingi Mohammad Hatta serta disaksikan sejumlah tokoh republik tengah membacakan teks proklamasi. Foto kedua berobjek sejumlah pemuda yang tengah mengibarkan bendera pusaka. Adapun foto ketiga berobjek sama dengan foto kedua, namun dari sudut pandang lain. Di latar belakang tampak puluhan atau mungkin ratusan orang berdiri khidmad tanpa menghormat, menyaksikan Sang Merah Putih yang tengah dikerek oleh Latief dan Suhud. Lebih dari sekadar penggambaran suasana, tiga foto juru potret Koran Asia Raja itu juga punya nilai sejarah tak terkira. Foto-foto yang diproduksi dengan taruhan nyawa tersebut menjadi bukti sahih proses kelahiran sebuah bangsa. Lewat foto-foto Mendur, dunia meyakini adanya Proklamasi Republik Indonesia.

Foto ternyata juga mengandung kekuatan mengejutkan. Soal ini kita bisa melihat karya fotografer Associated Press Eddie Adams yang memenangkan penghargaan Pulitzer pada 1969. Foto itu memapar aksi koboi Kepala Kepolisian Vietnam Selatang Jenderal Nguyen Ngoc Loan yang menarik pelatuk pistol dan menodongkannya ke kepala seorang komandan gerilyawan Vietkong. Setelah dimuat di sejumlah media ternama, foto itu ternyata mampu mempengaruhi opini publik Amerika Serikat terhadap Perang Vietnam. Di luar dugaan, foto Eddie Adams memicu gerakan antiperang dan menginspirasi lahirnya generasi bunga (The Flower Generation).

Meski demikian, foto tetaplah sumber informasi yang harus disikapi secara proporsional. Meski menampilkan citra objek wantah, bukan berarti data visual foto selalu bisa dipertanggungjawabkan dan tak terbantah. Laiknya sumber tekstual, foto tetaplah sumber informasi yang harus diperlakukan sebagai data. Maka betapapun meyakinkan penampilan sebuah foto sejarah, ia tetap wajib dikritik, baik secara ekstrinsik maupun intrinsik. Kritik ekstrinsik untuk menguji keaslian fisik foto. Kritik intrinsik memverivikasi kebenaran citra visual yang terdapat di dalamnya.

Foto-foto yang terangkum dalam buku Hari Terakhir Kartosoewirjo, sependek amatan saya belum melalui prosedur itu. Benar, dalam catatannya, Fadli Zon menjelaskan riwayat asal foto dari seorang kolektor, namun dia tak secara gamblang menyebut nama sang kolektor, serta dari mana kolektor tersebut mendapatkannya. Fadli hanya menduga, 81 foto eksekusi Kartosoewirjo merupakan dokumentasi tentara. Dugaanya didasarkan pada keterlibatan orang-orang yang hadir dalam peristiwa eksekusi dan cara menuliskan keterangan foto yang serbakaku khas tentara (halaman 6). Dengan belum terpenuhinya kejelasan sanad tersebut, maka ke-81 foto eksekusi yang terangkum dalam buku Hari Terakhir Kartosoewirjo belum bisa dikatakan sahih secara metodologi.

Terkait kritik intrinsik, perlu kiranya mencari tahu siapa pembuat foto dan untuk tujuan apa foto-foto tersebut dibuat. Benarkah ke-81 foto eksekusi Kartosoewirjo dibuat oleh tentara sekadar untuk dokumentasi, sesuai dugaan Fadli? Tidak adakah maksud lain, seperti propaganda, misalnya? Lalu, benarkah rangkaian foto itu menggambarkan suasana yang sebenarnya dari peristiwa? Tidak adakah fragmen gambar yang hilang atau sengaja dihilangkan?

Seperti terlihat dalam buku, rangkaian foto tersebut menunjukkan kesan ketegaran sang Imam dan keluarganya menghadapi pelaksanaan eksekusi. Pada petemuan terakhir tersebut, mereka makan nasi rendang yang disediakan oleh tentara. Dijelaskan dalam caption (yang mestinya lebih afdal ditampilkan dalam wujud aslinya berupa tulisan tangan), meski tak terbiasa dan merasa kepedasan, Dewi Siti Kalsum, istri Kartosoewirjo, tetap menyantap hidangannya. Begitupun anak-anak mereka: Tahmid Basuki Rahmat, Dodo Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti. Kartosoewirjo sendiri tidak makan. Dia memilih merokok dan minum kopi. Foto saat sesi minum kopi malah menunjukkan wajah Kartosoewirjo dan istrinya berhias senyuman. Dijelaskan pada caption: Kartosoewirjo menikmati kopi bersama istri sambil bersenda-gurau sejenak. Ketegaran serupa terlihat saat sang Imam, atas permintaan oditur militer, menyampaikan pesan terakhir kepada istri dan anak-anaknya. Tak terlihat ada yang menangis, menumpahkan air mata.

Namun kesan yang tampak dalam rangkaian foto eksekusi sedikit beda dari versi tertulis. Saat diwawancarai Tempo pada 1983, Dewi menuturkan bahwa dia tak sanggup menahan air mata ketika dalam pesan terakhirnya, Kartosoewirjo berkata, tidak akan ada lagi perjuangan seperti ini sampai seribu tahun lagi. Melihat Dewi Menangis, sang Imam yang berusaha tegar akhirnya luluh. Perlahan-lahan dia ikut mengusap air matanya.

***

Pihak keluarga sebenarnya pernah mendapat informasi jika lokasi eksekusi dan makam Kartosoewirjo berada di Pulau Ubi. Alkisah, 1-2 tahun setelah kabar eksekusi Kartosoewirjo diterima keluarga, datang seorang lelaki mengantar surat. Surat berkop tentara itu merupakan laporan tentara kepada Presiden Soekarno mengenai lokasi eksekusi Kartosoewirjo, yakni di Pulau Ubi. Namun tak dijelaskan jati diri lelaki penyeranta surat itu. Meski meyakini informasi tersebut, pihak keluarga enggan menindaklanjuti. Mereka takut surat itu jebakan aparat untuk mengukur kekuatan para pengikut Kartosoewirjo. Seiring waktu, informasi-informasi lain mengenai lokasi makam bermunculan, satu diantaranya di Pulau Onrust.

Ihwal “penyesatan” lokasi makam Kartosoewirjo di Pulau Onrust, salah satunya bisa dirujuk dari kisah yang dituturkan oleh wartawan senior Alwi Shahab. Alwi merasa yakin jika kuburan sang Imam berada di pulau itu. Keyakinannya didasarkan pada informasi yang ia dapatkan dari Solichin Salam, penulis buku Bung Karno Putra Fajar yang terbit pada 1966. Adapun Solichin, kata Alwi, beroleh informasi itu langsung dari Soekarno, saat dia menanyakannya. Jika cerita Alwi Shahab benar, maka memang ada semacam upaya “penyesatan” yang dilakukan pemerintah. Sangat mungkin hal itu untuk menghindari pengkultusan Kartosoewirjo oleh para pengikutnya.

Terlepas dari beberapa detail yang belum tergarap, kita tetap harus mengapresiasi ikhtiar Fadli Zon mengumpulkan puzzle sejarah Indonesia yang hilang. Hari Terakhir Kartosoewirjo, dengan kekayaan dokumen visualnya, sangat berpotensi menjadi pijakan bagi penelitian lanjutan mengenai sejarah Kartosoewirjo dan DI/TII yang masih separuh gelap.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *