Oleh Rukardi

Permen telah diproduksi di koloni Batavia pada abad ke-18. Ditopang budidaya dan penggilingan tebu oleh orang-orang Tionghoa. 

Tingting jahe Sin A produksi Pasuruan.

Tingting jahe Sin A produksi Pasuruan.

DALAM dunia kuliner, permen tergolong jenis kudapan. Namun, tak seperti kue, buah, dan es krim, ia hampir-hampir tak pernah terjumpai di meja makan. Lazimnya, penganan berbahan dasar gula itu dikonsumsi di kala senggang atau menjadi teman saat melakukan aktivitas ringan. Dalam pembahasan sejarah kuliner, permen juga cenderung diabaikan. Literatur mengenainya relatif jarang. Sependek pengetahuan saya, belum ada yang meneliti sejarah permen secara mendalam.

Meski demikian, sejumlah sejarawan meyakini cikal-bakal permen telah ada sejak zaman Mesir kuno, sekitar 3500 tahun silam. Permen purba itu dibuat dari campuran madu, rempah-rempah, dan biji-bijian. Pada masa Alexander Agung, 356 SM, pasukan Makedonia yang menaklukkan Persia diketahui gemar mengisap kand. Wujud permen primitif itu berupa tangkai sejenis tanaman yang dicelup ke dalam campuran madu dan rempah-rempah.

Seiring penemuan teknologi pembuatan gula tebu oleh bangsa Persia pada sekitar abad ke-3 Masehi, wujud permen berevolusi. Orang mulai menggunakan gula sebagai bahan dasar pembuatan kudapan manis itu. Pencampuran gula dengan berbagai bahan, menghasilkan aneka varian permen. Maka pada masa kemudian, kita mengenal permen cokelat, permen karet, permen susu, permen asem, permen kopi, permen mint, dan lain-lain.

Lalu, sejak kapan permen ada di Nusantara? Sejauh ini pertanyaan tersebut belum bisa dijawab dengan gamblang. Mengapa? Pertama, tidak ada literatur yang komprehensif menjelaskan tentang itu. Kedua, belum ada kesepahaman ihwal definisi permen. Apakah mencakup semua jenis kudapan padat yang berasa manis? Apakah kudapan padat berasa manis yang dibuat dari bahan selain gula tebu juga bisa disebut permen? Pada masa lalu nenek moyang kita punya banyak istilah untuk menyebut kudapan manis, mulai dari kembang gula, tingting, gulali, loli, bonbon, manisan, hingga arum manis.

Faktual, beberapa istilah itu kerap digunakan secara rancu. Istilah permen, misalnya, sangat mungkin berasal dari kata pappermint atau pepermunt dalam bahasa Belanda. Padahal dalam pengertian aslinya, pappermint merujuk pada jenis tanaman perdu yang menghasilkan rasa pedas. Tapi kita hingga kini memahami permen sebagai jenis kudapan manis. Belum adanya kesepahaman soal istilah itu membuat kita, misalnya, gamang untuk memasukkan gula aren dalam kategori permen. Seperti kita ketahui, gula aren sudah dibuat orang Indonesia, jauh sebelum mengenal gula tebu.

Namun di tengah keruwetan tersebut, John Joseph Stockdale, penulis Inggris yang pernah mengunjungi Jawa pada 1760-an hingga 1800-an menyajikan fakta menarik terkait sejarah permen. Dalam cacatan perjalanan yang dia bukukan dengan judul The Island of Java (1811), Stockdale menyebutkan bahwa pada 1778 terdapat sejumlah komoditas dari koloni Batavia yang diekspor ke Eropa, salah satunya candied gingger alias kembang gula jahe. Komoditas itu dikirim dalam jumlah 10.000 pon per tahun dan menghasilkan keuntungan cukup besar. Dari informasi Stockdale yang cuma sepotong, kita bisa membayangkan jika kembang gula jahe telah diproduksi dalam skala besar di koloni Batavia yang saat itu sedang bertumbuh. Komoditas tersebut laku keras di Eropa karena berkhasiat menghangatkan badan dan menghilangkan kembung.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *