Produksi permen dalam skala besar ditopang oleh budidaya dan aktivitas penggilingan tebu yang dilakukan orang Tionghoa di sekitar Batavia mulai awal abad ke-17. Mengutip Jan Hoyman, Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya Jilid II, memaparkan bahwa pada 1750 terdapat 80 penggilingan tebu di sebelah barat dan timur sungai Ciliwung.

Seiring waktu, industri permen terus berkembang. Selain kembang gula jahe, muncul beragam permen jenis lain, seperti strong pepermunt, permen kenari, pastiles, dan kembang gula asem. Beberapa merek impor turut berebut pasar permen di Hindia Belanda.

Memasuki abad ke-20, pasar permen makin meluas. Akibatnya, banyak pemilik modal yang tergoda menerjuni bisnis kudapan manis itu. Di Semarang, misalnya, Venus Chemical Co. yang semula adalah perusahaan pembuat minyak wangi, mulai 1929 menambah usahanya dengan memproduksi permen dan cokelat. Seperti terpapar dalam buku Semarang als Industrieel, Commercieel en Cultureel Centrum (1941), awalnya mereka hanya menyasar pasar lokal, tapi pada 1934, perusahaan bermotto “Sekali dicoba selalu disuka” itu melakukan perluasan hingga ke Eropa.

Pada awal 1940-an, Venus Chemical Co. menjadi perusahaan permen modern. Pabriknya yang terletak di Kenarilaan (sekarang Jalan Sisingamangaraja) digerakkan oleh 300 pekerja. Pemain lain yang ikut nimbrung di bisnis ini adalah pabrik permen Ching Chun di Plampitan Gang Bokoran 165 Semarang. Ching Chun memproduksi permen bermerek Norton dan Hobby.

Pada zaman Belanda, permen sudah banyak dijajakan di tempat umum. Mas Marco Kartodikromo dalam novel Mata Gelap (1914), seperti dikutip Andreas Maryoto, mengisahkan, bahwa permen merupakan salah satu jenis kudapan yang dijual di tempat makan di Stasiun Pekalongan. Salah seorang tokoh di dalam novel digambarkan Marco tengah menikmati bir, es, permen, dan cokelat, saat kereta yang ditumpanginya berhenti sejenak dalam perjalanan dari Semarang ke Cirebon. Kudapan manis itu juga terpajang rapi di toples cantik toko-toko kue dan restoran, seperti toko kue Maison Delicacy yang merupakan cabang toko roti dan kue Nyonya Goei Sam Ho di Jalan Doewet (sekarang Jalan Gajahmada), dan toko permen Gwan Hwa di Jalan Mataram (sekarang Jalan MT Haryono).

Kini, produk permen kian membanjiri pasaran. Tak berbilang lagi keragaman jenis, bentuk, rasa, dan kemasannya. Produk-produk itu berlomba menarik konsumen dengan beriklan di media massa. Namun di tengah gemuruh persaingan itu, beberapa permen, seperti Davos (Purbalingga) dan Tingting Jahe Sin A (Pasuruan) tetap eksis dengan kekunoannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *