Oleh Rukardi

Semarang salah satu simpul penting pergerakan nasional. Aksi-aksi revolusioner Semaoen dkk menjadi salah satu penanda era baru di Jawa dan Hindia Belanda, yang oleh Takashi Shiraishi disebut sebagai “an age in motion” atau zaman bergerak.

Vergadering anggota Sarekat Islam dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api dan Trem) di Kaliwungu pada 25 September 1921.

Vergadering anggota Sarekat Islam dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api dan Trem) di Kaliwungu pada 25 September 1921.

 AWAL 1913, Henk Sneevliet meninggalkan tanah kelahirannya menuju Hindia Belanda. Ia pergi dengan perasaan campur aduk antara galau dan kecewa. Perseteruannya dengan Ketua Sociaal Demokratische Arbeiders Partij (SDAP), Pieter Jelles Toelstra, sebagai respons atas peristiwa pemogokan buruh pelabuhan di Belanda pada 14 Juli 1911, berbuah pemecatan dirinya sebagai Ketua Nederlandshe Vereniging van Spoor en Tramweg Personeel (NVSTP).[1] Kepergian lelaki kelahiran 13 Mei 1883 itu ke Tanah Hindia untuk mengasingkan diri dari hiruk-pikuk pergerakan buruh yang telah membesarkan namanya. Tujuan lain, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.

Medio Februari 1913, Seevliet tiba Jawa. Dia segera beroleh pekerjaan sebagai staf editor Soerabajaasch Handelsblad, koran utama di Jawa Timur yang menjadi corong jaringan perusahaan gula. Baru tiga bulan bekerja, Sneevliet beroleh tawaran yang lebih menarik, menggantikan D.M.G. Koch sebagai sekretaris Semarang Handelsvereniging (semacam Kamar Dagang di Semarang). Dengan gaji 1.000 gulden, semestinya dia bisa menikmati hidup sebagai warga kelas Eropa. Namun suasana Semarang yang tengah bergeliat menjadi kota industri telah membangkitkan kenangannya terhadap dunia pergerakan. Merujuk Ruth T. McVey, Semarang pada masa itu tumbuh menjadi pusat kepentingan komersial orang-orang Eropa yang hendak membangun pasar di Jawa.[2] Kota ini tengah membentuk dirinya menjadi enclave industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja dari wilayah hinterland. Keberadaan kelas buruh menciptakan suasana revolusioner lebih kental dari kota-kota besar lain di Hindia Belanda.

Mula-mula Sneevliet bergabung dengan Vereniging voor Spoor en Tramweg Personeel (VSTP), organisasi buruh kereta api dan trem yang berpusat di Semarang. VSTP yang telah berdiri sejak 1908 itu mengingatkannya pada organisasi yang pernah dia pimpin saat berada di Belanda, NVSTV. Dia juga menjadi editor De Volharding, media berbahasa Belanda milik VSTP. Belum merasa puas, Sneevliet membangun relasi dengan orang-orang sosialis demokrat Belanda di Tanah Hindia. Bersama mereka, dia membentuk wadah bernama Indische Sociaal-Democratische Vereniging (ISDV) di Surabaya pada 9 Mei 1914.[3]

Saat berdiri, ISDV hanyalah kumpulan orang-orang Belanda yang gemar berdiskusi tentang sosialisme. Mereka juga menggalang dana untuk mendukung kaum sosialis dalam pemilihan umum di Negeri Belanda. Organisasi ini tak memiliki cukup uang, pengaruh, maupun program-program komperehensif bagi massa rakyat Indonesia. Sifat tertutup dan aktivitas yang statis membuat ISDV kurang cepat berkembang. Jika pada saat berdiri memiliki anggota 60-an orang, pada 1915 hanya bertambah sedikit menjadi 85 orang. Setahun berikutnya, keanggotaannya menjadi 134 orang.[4] Sadar dengan posisinya, Sneevliet dan kawan-kawan berupaya melakukan pembenahan. Mereka lalu membuka diri dan mencari aliansi strategis dengan gerakan besar yang dapat menjadi jembatan bagi partai dan massa Indonesia. Pada awalnya, ISDV menjalin kerja sama dengan Insulinde. Namun di tengah jalan mereka tersadar bahwa muara perjuangan Insulinde hanyalah menggantikan kepemimpinan orang-orang Eropa dengan kaum Indo dan orang terdidik Indonesia. Setelah memutuskan hubungan dengan Insulinde, ISDV kemudian melirik organisasi masyarakat pribumi yang memiliki basis massa besar, yakni Sarekat Islam (SI).

Sebagai orang Belanda yang nonmuslim, personel ISDV tidak mungkin bisa masuk menjadi anggota SI, maka mereka berupaya menarik tokoh-tokoh dari sayap progresif SI untuk aktif di ISDV. Orang bumiputera pertama yang berhasil direkrut adalah Semaoen. Lelaki kelahiran Curahmalang, Mojokerto, Jawa Timur, pada 1899 itu memasuki dunia pergerakan saat masih berusia 15 tahun. Dia mengawali karier politiknya sebagai sekretaris SI Cabang Surabaya. Setahun kemudian bergabung dengan VSTP dan ISDV cabang Surabaya. Pada Juli 1916, Semaoen hijrah ke Semarang dan menjadi propagandis VSTP. Setahun berikutnya, dalam usia 18 tahun, dia berhasil menduduki kursi pimpinan SI Semarang, menyingkirkan Mohammad Joesoef. Dari Semaoen-lah pengaruh ISDV masuk ke tubuh SI.[5]

Program-program radikal yang diusung Semaoen sukses menarik minat masyarakat bumiputera untuk bergabung ke dalam SI Semarang. Di bawah kepemimpinan Semaoen, SI Semarang tumbuh pesat. Jika pada 1916 keanggotaannya hanya 1.700 orang, setahun berikutnya meningkat menjadi 20.000 orang.[6]  Sebagian besar dari mereka adalah kaum buruh, pedagang kecil, dan petani. Pengaruh sosialisme menjadikan SI Semarang berbeda dari haluan Centraal Sarekat Islam (CSI) dan sejumlah cabang SI di kota lain. Perbedaan ideologi tersebut kerap memicu perselisihan dalam menyikapi sejumlah persoalan.

Ketika muncul gagasan mengenai pembentukan milisi bumiputera untuk pertahanan Hindia (Indie Werbar), misalnya, SI Semarang lantang menyuarakan penolakan. Padahal Abdoel Moeis, sebagai pengurus CSI, menjadi pendukung utama gagasan itu. Dia merupakan salah satu anggota delegasi Hindia yang menghadap dan mendapatkan restu Ratu Wilhelmina di Belanda. SI Semarang menggalang protes menentang tindakan CSI dan menyampaikan resolusi menentang usaha-usaha Indie Weerbar. Menurut mereka, pembentukan milisi bumiputera hanyalah siasat kaum pemodal Belanda untuk mengamankan aset bisnisnya di Tanah Hindia. Dalam hal ini, rakyat bumiputera hanya dijadikan sebagai umpan peluru.[7]

Perbedaan pandangan juga terjadi dalam masalah Volksraad. SI Semarang semenjak awal menentang keras pembentukan dewan rakyat Hindia Belanda itu. Padahal dua pemimpin CSI H.O.S. Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis duduk sebagai anggota Volksraad. Semaoen dalam berbagai kesempatan menyebut lembaga yang berfungsi sebagai badan penasihat tanpa kekuasaan legislatif, interpelasi, dan penyelidikan parlementer itu sebagai panggung komedi tonil, karena dari 38 anggota yang duduk di dalamnya, hampir seluruhnya tidak berpihak pada kaum kromo. “Boekan ‘Volksraad’ jang akan bisa bikin baik nasibnja ra’jat, tetapi gerakannja ra’jat sendiri.[8]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *