Kepemimpinan Semaoen berhasil membawa SI Semarang ke posisi yang sangat diperhitungkan. Pada Kongres CSI ke-2 di Batavia, Semaoen dan kawan-kawan sanggup mengimbangi kekuatan sayap kanan yang diwakili Abdoel Moeis. Meski tuntutan ihwal Indie Weerbar dan Volksraad tak dipenuhi, mereka berhasil memasukkan ide-ide sosialisme ke dalam program Sarekat Islam. Kongres yang berlangsung antara 20-27 Oktober 1917 itu menghasilkan keputusan, antara lain menuntut kebebasan organisasi politik, mengutuk kapitalisme asing yang jahat, dan menuntut perbaikan peraturan perburuhan dan agrarian serta pendidikan umum gratis.[9]  Diam-diam sikap SI Semarang juga memengaruhi gaya politik Tjokroaminoto.

Sukses Kongres CSI ke-2 diulang kelompok Semarang pada dua kongres berikutnya, yakni Kongres ke-3 pada 1918 dan Kongres ke-4 di Surabaya pada 1919. Selain memasukkan program pengembangan aktivistas perburuhan, sejumlah anggota ISDV masuk di jajaran pengurus CSI, antara lain Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Alimin, Soekirno, dan Darsono. Dengan komposisi semacam itu, kaum sosialis revolusioner mulai terlihat menguasai CSI. Soe Hok Gie menyebut hal itu sebagai pencapaian besar Semaoen.[10]

Selain di SI Semarang, pengaruh ISDV juga menancap kuat di tubuh VSTP. Pada awalnya organisasi buruh kereta api dan trem itu hanya beranggotakan buruh-buruh Eropa yang bekerja di Nederlandsch Indische Spoorweg Maatscapij (NIS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS). Seiring waktu, VSTP menerima kalangan buruh bumiputera menjadi anggota. Kehadiran Henk Sneevliet pada 1913 mempengaruhi pimpinan serikat buruh tersebut untuk menempatkan anggota bumiputera sejajar dengan anggota Eropa. Pada awal 1914, kongres memutuskan, paling tidak tiga dari tujuh pemimpin VSTP harus dari kalangan bumiputera. Kebijakan itu segera menarik buruh bumiputera berbondong-bondong masuk VSTP. Jika pada Mei 1914 komposisi keanggotaan VSTP adalah 701 buruh bumiputera dan 764 buruh eropa, Januari 1915 komposisinya berubah menjadi 1.439 buruh bumiputera dan 853 buruh Eropa.[11]

Perubahan komposisi keanggotaan pada akhirnya berpengaruh juga pada pergeseran kepemimpinan di organisasi itu. Semaoen menjadi orang bumiputera pertama yang duduk sebagai ketua VSTP. Dia yang berada di bawahpengaruh Sneevliet membawa serikat buruh ke dalam aksi-aksi yang sangat radikal. VSTP mengadvokasi buruh SCS yang berselisih dengan perusahaan soal upah dan ketentuan jam kerja. Mereka juga memperjuangkan hak buruh yang terampas oleh kebijakan efisiensi anggaran oleh Gubernur Jenderal Fock (1921-1926). VSTP bahkan mengancam melakukan pemogokan. Namun pemerintah tak tinggal diam. Pada 8 Mei 1923, Semaoen ditangkap. Momentum penangkapan Semaoen direspons buruh dengan melakukan pemogokan besar pada keesokan hari. Sebanyak 13.000 dari 20.000 buruh kereta api turut serta. Pemogokan juga didukung kusir dokar dan pedagang pasar. Akibatnya Semarang lumpuh. Tak berhenti di sini, pemogokan meluas ke Batavia, Meester Cornelis (Jatinegara), Solo, Yogyakarta, Jatibarang, Blitar, Nganjuk, dan sejumlah kota lain di Jawa.

Radikalisme aktivis pergerakan dari Semarang segera menarik perhatian pemerintah. Mereka mulai menjadi target penangkapan dan pembuangan. Korban pertama dari ikhtiar ini adalah sang mentor utama, Henk Sneevliet.  Dia ditangkap dengan tuduhan mengganggu ketenteraman tatanan kolonial. Artikelnya “Zegepraal” (kemenangan) yang dimuat di De Indier dianggap menghasut rakyat Jawa untuk mengikuti jejak rakyat Rusia yang sukses menumbangkan Tsar dalam Revolusi Bolshevik. Di luar dugaan, tuduhan itu tidak dapat dibuktikan di pengadilan. Sneevliet pun dibebaskan.  Namun kebebasan itu hanya sementara. Tak lama kemudian, dia kembali ditangkap lantaran serangkaian artikel yang keras di Het Vrije Word serta kerja revolusionernya mengorganisasi pemberontakan prajurit dan kelasi di tubuh Angkatan Laut Belanda di Surabaya. Dengan hak istimewa (exorbitante rechten) yang dimilikinya, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum memaksa Sneevliet hengkang dari Tanah Hindia. Pada masa kemudian, penangkapan, pemenjaraan, dan pembuangan juga dialami pemimpin pergerakan Semarang yang lain, seperti Semaoen, Mas Marco Kartodikromo, Darsono, dan Tan Malaka.

Marco, Darsono, dan Tan Malaka merupakan kader menonjol yang dimiliki SI Semarang . Marco jurnalis yang konsisten mengambil tempat berseberangan dengan pemerintah kolonial. Dia hijrah ke Semarang pada awal 1918. Selain mengelola harian Sinar Hindia, dia juga pernah menjadi salah satu komisaris SI Semarang. Darsono “ditemukan” Semaoen di persidangan Sneevliet. Dia yang kagum dengan sikap politik Sneevliet diajak Semaoen bergabung dengan SI dan menjadi redaktur Sinar Hindia. Darsono kemudian menjadi komisaris SI Semarang dan aktif di ISDV. Adapun Tan Malaka, guru lulusan Belanda yang diajak Semaoen mendirikan Sekolah SI di Semarang. Dia yang tiba di Semarang pada 21 Januari 1922, awalnya konsisten berkecimpung dalam dunia pendidikan, namun situasi mengubah takdir hidupnya. Ketika para pemimpin SI Semarang ditangkap dan dibuang, Tan Malaka tampil ke permukaan.[12]

Aksi-aksi revolusioner yang dipelopori oleh kelompok Semarang menjadi salah satu penanda era baru di Jawa dan Hindia Belanda pada umumnya, yang oleh Takashi Shiraishi disebut sebagai “an age in motion” atau zaman bergerak. Era ini ditandai oleh munculnya kesadaran politik di kalangan masyarakat bumiputera yang secara kasat mata mewujud melalui media vergadering (rapat umum), surat kabar, pemogokan, organisasi dan partai politik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *