Pada 1 Juni 1919, SDAP Hindia Belanda yang merupakan sempalan ISDV dan beranggotakan kelompok sosialis moderat memisahkan diri dari organisasi induknya di Belanda. Mereka mengganti namanya dengan Indische Sociaal Demokratische Partij (ISDP). Nama tersebut tidak hanya sangat mirip dengan ISDV, namun juga sulit dibedakan pelafalannya oleh masyarakat bumiputera. Pasalnya, bahasa Melayu saat itu tak mengenal huruf “v”, sehingga penyebutannya menjadi “p”.[13]  Anggota ISDV merasa terganggu dengan penggantian nama organisasi lawan politik tersebut. Agar bisa dibedakan, mereka lantas merencanakan penggantian nama ISDV. Namun sepanjang 1919, rencana itu tak kunjung terlaksana.

Kebetulan pada awal 1920, ISDV menerima surat dari Maring, nama samaran Sneevliet, di Shanghai, Tiongkok. Dia menganjurkan agar ISDV bergabung dengan Komintern yang baru dibentuk. Untuk itu harus dipenuhi 21 syarat, antara lain memakai nama terang partai komunis dan menyebut nama negaranya. Dalam Kongres ISDV ke-7 di Kantor SI Semarang pada 23 Mei 1920, masukan itu dibahas. Setelah melalui perdebatan, akhirnya disepakati perubahan nama ISDV menjadi Persarekatan Komunis di Hindia (PKH). Pada Kongres ke-9 di Batavia tahun 1924, nama itu diganti lagi menjadi Partai Komunis Indonesia. Momentum penggantian nama sekaligus penggabungan diri dengan Komintern pada 23 Mei 1920 kemudian diperingati sebagai hari kelahiran PKI. Momentum itu juga menandai peralihan kepemimpinan dari orang Belanda kepada orang bumiputera, dari  Hartogh ke Semaoen.

Sementara itu, memasuki tahun 1920, relasi kelompok Semarang dengan CSI mulai renggang. Selain imbas dari perselisihan dan perebutan pengaruh dalam organisasi perburuhan, hal itu dipicu oleh persoalan laten mengenai perbedaan ideologi di antara keduanya. Dalam pertemuan bestuur CSI di Yogyakarta pada 30 September 1920, Agus Salim dan Soerjopranoto dari CSI melontarkan isu disiplin partai. Pertemuan menyepakati isu tersebut akan dibawa ke Kongres CSI yang rencananya digelar di Surabaya pada 16 Oktober 1920. Dalam kesempatan itu mereka juga menolak kehadiran Darsono sebagai wakil Semaoen. Pertemuan juga menyepakati pemindahan markas CSI dari Surabaya ke Yogyakarta.[14]

Namun belum sempat kongres dilaksanakan, Darsono melakukan pukulan balik dengan menerbitkan artikel berseri di Sinar Hindia, edisi 6,7, dan 9 Oktober 1920. Tulisan berjudul “Kepemimpinan CSI dalam Pengamatan” itu menyerang Tjokroaminoto dan Brotosoehardjo secara pribadi. Brotosoehardjo disebut menggelapkan dan mempertaruhkan uang CSI. Adapun Tjokroaminoto diserang karena pinjaman sebesar 2000 gulden bagi CSI dengan jaminan mobil CSI yang dibeli Tjokroaminoto sebagai bendahara untuk kepentingan Tjokroaminoto sebagai ketua. Tak hanya itu, Darsono juga mengungkap gaya hidup royal Tjokroaminoto yang ditunjukkan oleh pembelian mobil seharga 3000 gulden dan perhiasan untuk istri keduanya. [15]

Serangan Darsono memicu konflik yang lebih parah antara SI Semarang dengan CSI. Meski sempat mengalami pasang-surut, hubungan keduanya cenderung memburuk. Puncak perseteruan itu terjadi pada Kongres CSI di Madiun, pada 17-23 Februari 1923. Kongres yang sepenuhnya dikuasai oleh CSI itu memutuskan pemberlakuan disiplin partai, yakni memaksa anggota SI menanggalkan keanggotaan gandanya di organisasi lain. Tujuan keputusan itu jelas, untuk menyingkirkan kelompok kiri dari tubuh Sarekat Islam. Kongres juga menghasilkan keputusan penting lain, yakni mengubah nama CSI menjadi Partai Sarekat Islam (PSI).[16]

Menyusul pemberlakuan disiplin partai di tubuh CSI/PSI, pada awal Maret 1923, Hoofdbestuur PKI mengadakan Kongres PKI dan SI Merah di Bandung dan Sukabumi. Kongres yang dihadiri perwakilan 16 afdeling PKI dan 15 dari 20 afdeling SI Merah itu dimaksudkan untuk konsolidasi serta memantapkan diri beroposisi terhadap CSI/PSI. Sejak itu, Semaoen dan kawan-kawan mengambil jalan sendiri untuk mewujudkan cita-cita politik mereka.

[1]  “Langkah Pemuda dari Rotterdam” dalam Historia No. 13 Tahun II, 2013.

[2]  Ruth T. McVey, Kemunculan Komunisme Indonesia (Jakarta: Komunitas Bambu, 2009), hal. 20.

[3]  Ibid., hal. 22.

[4]  Ibid., hal.24.

[5]  Sepak terjang Semaoen dalam lapangan pergerakan nasional dapat dibaca di buku karya Soewarsono, Berbareng Bergerak: Sepenggal Riwayat dan Pemikiran Semaoen (Yogyakarta: LKIS, 2000).

[6]  Ruth T. McVey, op cit., hal. 33.

[7]  Sinar Hindia, 8 Mei 1918, seperti dikutip Dewi Yuliati, Semaoen, Pers Bumiputera dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang (Semarang: Penerbit Bendera, 2000).

[8]  Semaoen, “Komedi Volksraad”, Sinar Djawa, 4 Maret 1918. Seperti dikutip Soewarsono, op cit., hal. 57.

[9]  Ruth T. McVey, op cit., hal. 35.

[10]  Soe Hok Gie: Di Bawah Lentera Merah (Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1999).

[11]  Dewi Yuliati, Dinamika Pergerakan Buruh di Semarang, 1908-1926.Disertasi untuk memeroleh derajat Doktor dalam Ilmu Sejarah pada Universitas Gajahmada, 2005.

[12]  Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, (Yogyakarta: Penerbit Narasi, 2008), hal. 98-99. Mengenai Sekolah Sarekat Islam Semarang periksa Tan Malaka, “SI Semarang dan Onderwijs” diterbitkan di Semarang pada 1921 oleh Serikat Islam School (Sekolah Serikat Islam).

[13]  Ruth T. McVey, op cit., hal. 78.

[14]  Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926 (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997), hal. 308-309.

[15]  Ibid., hal. 309.

[16]  Ibid., hal. 327.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *